#IbuBerbagiBijak Financial Check Up

Tags

, , ,

Wanita umumnya, dan para ibu khususnya tentu harus bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Jika tidak, bisa saja kita tidak memiliki simpanan atau bahkan lebih buruk, terlilit hutang. Memang sih, tidak mudah mencapai kondisi financial sesuai yang kita harapkan karena beragamnya masalah keuangan yang kerap menghampiri keluarga. Biasanya berbagai masalah keuangan ini berakar dari pengelolaan keuangan yang kurang bijak. Salah satunya karena ibu kurang cukup paham bagaimana mengelola keuangan dengan baik.

Besar Pasak daripada Tiang

Siapa sih yang tidak paham arti ungkapan di atas. Namun faktanya, tidak sedikit dari kita yang mampu menghindar dari pengeluaran berlebih. Penyebabnya beragam, mulai dari inflasi harga hingga gaya hidup.

Tapi bukan tidak mungkin lho, kita tidak bisa hidup nyaman hanya dengan penghasilan dan/atau pemasukan yang kita dapatkan. Kembali lagi, asal dikelola dengan benar, segala tujuan finansial sangat mungkin tercapai. Nah, agar keuangan menjadi lebih terkendali, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan, yaitu

  1. Financial Check Up
  2. Membentuk Dana Darurat
  3. Mengatur Utang
  4. Membuat Anggaran Belanja
  5. Merencanakan Keuangan

Financial Check Up

Kenapa sih, kita harus melakukan terlebih dahulu??

Sama seperti tubuh, kita harus rutin melakukan pemeriksaan agar kita bisa tahu dengan lebih pasti, apakah kita cukup sehat atau tidak. Kalau ternyata kurang sehat, kita juga bisa tahu lebih rinci, apa yang perlu diperbaiki dan dibenahi atau bagian mana yang perlu dirawat bahkan diobati.

Nah, dengan melakukan financial check up, kita jadi tahu kondisi keuangan rumah tangga kita. Apakah pengelolaan keuangan yang kita lakukan sudah cukup baik atau belum.

Kalau boleh jujur, saya termasuk yang suka malas melakukan financial check up. Padahal sebenernya, kita hanya butuh melakukan financial check up setahun sekali.

TUMBlogger antusias mengikuti financial education oleh Prita Ghozie

Untung ada The Urban Mama dan Visa yang mengadakan #TUMBloggersMeetUp bertema #IbuBerbagiBijak Financial Check Up. Namanya Ibu bijak tentu harus rajin meng-update ilmu donk. Supaya ngga kudet alias kurang update kalau kata anak sekarang. Berkat ikutan di #TUMBloggersMeetUp ini pula, saya jadi tahu kalau status kondisi keuangan bisa dikategorikan menjadi empat, yakni:

  • Tidak Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan.
  • Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran sama besarnya dengan penghasilan.
  • Mandiri adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran.
  • Sejahtera adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, dan juga adanya kepemilikan penghasilan pasif dari aset, tidak punya utang, serta kemampuan berderma.

Untuk memastikan bagaimana status kondisi keuangan masuk di kategori apa, kita perlu melakukan Financial Check Up dengan membuat dan mengisi tiga perangkat berikut:

  1. Mengisi Tabel Kekayaan Bersih Data. Caranya dengan membuat dua kolom aset dan utang. Kemudian, kategorikan aset yang kita miliki menjadi aset kas, aset investasi, dan aset konsumsi. Pun utang, dapat kita bagi menjadi utang jangka pendek dan jangka panjang.
  2. Mengisi Tabel Arus Kas, Dengan membuat pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Hal-hal yang dapat membantu dalam penyusuan tabel ini adalah mengumpulkan data-data seperti bon belanja, mutasi rekening, dan lainnya selama tiga bulan. Arus kas ini bermanfaat untuk melihat dan merencanakan pengeluaran rutin bulanan kita.
  3. Hitungan Rasio Keuangan. Hitungan rasio keuangan ini semacam standar pengukur keuangan kita. Tabel di bawah, sedikit banyak memilah apakah pengelolaan keuangan yang kita lakukan sudah cukup terkendali atau belum.

Bagaimana status keuangannya? Semoga masuk di kategori sejahtera semua ya. Kalau belum sejahtera, saya masih punya satu lagi jurus lagi nih, yang semoga bisa memperbaiki mengelola keuangan.

Oleh-oleh dari #TUMBloggersMeetUp #IbuBerbagiBijak

Caranya adalah dengan mengalokasikan total seratus persen pemasukan ke dalam jalur pengeluaran sesuai dengan prosentase sebagai berikut:

  • 5%   Sedekah
  • 30% Cicilan Utang
  • 10% Dana Darurat
  • 30% Biaya Hidup
  • 10% Gaya Hidup
  • 15% Investasi

Wah, biaya hidup cuma 30%? Apa bisa? Bisa donk. Sebenernya, kebutuhan primer untuk hidup kita tidak mahal kok. Yang mahal adalah pilihan-pilihan kita. Jadi, pilihlah pemenuh kebutuhan hidup yang sesuai kemampuan diri dan keluarga kita.

Selamat menjadi sejahtera para Ibu-Ibu Bijak

 

Kiat Playdate Seru Bersama Si Kecil

Tags

, , , , , , ,

Horeee…!!!

Lebaran sebentar lagi.

Mirip dengan lebaran-lebaran sebelumnya, lebaran nanti kami sekeluarga akan menjalani ritual mudik sekaligus liburan. Perjalanan kami nanti akan cukup panjang. Kami akan ke Bandung, Surabaya, dan Malang. Berkunjung dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Maklum, keluarga kami tersebar di beberapa kota.

Kembali ke kampung halaman tentunya tidak hanya kami manfaatkan untuk bertemu keluarga saja. Biasanya saya atau pun suami akan bertemu dan berkumpul dengan sahabat-sahabat lama. Mayoritas para sahabat ini juga sudah berkeluarga serta memiliki momongan dengan usia sebaya dengan anak-anak kami.

Kalau beberapa tahun lalu, agendanya bisa saja hanya sekedar berkumpul bersama di satu coffee shop dan saling bertukar cerita. Nah, beberapa tahun belakangan, agenda berubah menjadi playdate. 

Playdate merupakan solusi menyenangkan bagi kami, generasi Y yang rata-rata sudah berkeluarga. Para orang tua bisa saling bertemu dan anak-anak bisa saling berkenalan serta belajar bersosialisasi. Hitung-hitung menabung pengalaman bagi anak dan pelepas penat bagi orang tua. Maka, selalu pastikan lokasi playdate adalah tempat yang family & kids friendly, yakni aman, nyaman, menyenangkan serta rekreatif sesuai usia anak.

 

 

Playdate bersama si kecil, apalagi seusia Kimi (3tahun), tentu butuh persiapan memadai. Namun jangan berlebihan juga supaya kita tidak ribet sendiri. Biasanya kalau mau playdate bersama batita, saya selalu melakukan lima hal ini:

  1. Sarapan. Penting bagi si kecil untuk memenuhi kebutuhannya. Pastikan si kecil tidak dalam kondisi lapar sehingga mereka tidak cranky saat playdate.
  2. Berangkat pagi. Agar matahari tidak terlalu terik saat dalam perjalanan dan saat anak-anak bermain. Dan waktu bermain jadi lebih lama. Jangan lupa sampaikan juga pada anak bahwa kita akan berangkat pagi.
  3. Menyiapkan bekal air dan cemilan. Saat bermain, energi si kecil pasti banyak terkuras. Bekal dari rumah sangat membantu me-recharge energi mereka sekaligus menghemat pengeluaran untuk jajan di luar. Dan dijamin lebih bersih dan sehat.
  4. Membawa toiletries ukuran kecil termasuk sabun, sampo, sikat gigi dan pasta gigi, serta handuk kecil, tissue basah dan tissue kering.
  5. Sedia set baju ganti termasuk disposable diaper. Jangan sampai keringat dan ‘pengeluaran’ si kecil mengganggu aktivitas mereka. Siapkan selau pakaian cadangan yang nyaman. Untuk disposable diaper, saya selalu percayakan pada pampers. Kalau #pakaipampers, saya yakin Kimi akan nyaman beraktivitas sepanjang hari. Karena pampers mengandung lotion yang membantu menjaga kelembaban kulit si kecil.

Meski kita sudah mempersiapkan segala hal secara lengkap dan sempurna, tetaplah jalani playdate dengan santai. Tak perlu berharap anak-anak kita akan langsung akrab dengan anak-anak sahabat kita, seakrab orang tuanya. Yakinlah bahwa mereka masih akan mendapatkan keterampilan sosial yang berharga dalam menjalin pertemanan di masa depan.

Que sera sera, whatever will be will be.

Kalau mama sendiri, adakah agenda playdate dalam rutinitas lebaran nanti? Atau bahkan mama dan si kecil tengah rajin playdate untuk mengisi libur selama Ramadhan? Nah, para Urban Mama pasti sudah share juga donk cerita dan foto momen playdate mama bersama si kecil dengan sahabat-sahabat tercinta dalam #TUMPampersPhotoContest.

 

 

Bagi yang sudah berpartisipasi, tetap ikuti terus timeline social media @the_urbanmama ya. Siapa tahu, foto mama dan si kecil dengan #PakaiPampers termasuk menjadi salah satu pemenang kontes foto #PampersXTUM

Tunggu pengumumannya ya. Good luck, mama 🙂

Maaf untuk Ibu

Tags

, , , , , , ,

Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan ibu tercinta?

Kalau saya, hampir setahun lamanya saya tidak bertemu dengan ibu. Saya tinggal terpaut jarak dengan ibu tercinta. Saya di Jakarta, ibu saya di Surabaya. Saya ingat, saat kali pertama saya ke Jakarta untuk bekerja sembilan tahun lalu, ibu mengantarkan kepergian saya dengan air mata. Sebelumnya, saya tidak pernah tinggal jauh dari ibu. Mungkin, rasa khawatir begitu memenuhi hatinya kala itu.

Tak disangka, sejak itu, saya tidak pernah lagi tinggal satu atap dengan ibu saya. Bahkan karena tuntutan pekerjaan (saya bekerja sebagai jurnalis kala itu), saat puasa dan lebaran, saya tidak bisa pulang untuk bersimpuh meminta maaf di kaki ibu.

Saya kemudian menikah dan tinggal mengikuti suami di Jakarta. Saya lalu memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Ternyata meski sudah tidak terikat sebagai karyawan, tidak terlalu mudah juga meluangkan waktu untuk pulang dan memeluk ibu secara langsung. Lebih banyak, ibu (dan papa) yang datang ke Jakarta lantaran kangen dengan cucu-cucu mereka.

Beberapa hari lalu, tiba-tiba ibu mengirim pesan singkat ke nomor saya. Tidak banyak yang ibu ungkapkan. Ibu hanya menulis, “Apa kabar bun? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya. Ibu kangen dengan kalian semua.” Seketika saya terperanjat. Sebegitu sibukkah sampai saya lupa menelepon ibu untuk setidaknya menanyakan kabarnya. Saat itu juga, saya memanggil anak-anak saya untuk mengajak mereka berbincang via telepon dengan nenek mereka. Suara ibu terdengar begitu bahagia mendengar suara kami, anak dan cucu-cucunya.

Alhamdulillah Ramadhan sudah datang. Lebaran nanti kami memang berencana menghabiskan liburan di Surabaya lebih lama dari sebelumnya. Ah tak sabar rasanya, ingin sekali diri ini segera memeluk ibu secara langsung, mencium pipinya, meminta maaf dan bersimpuh langsung di hadapannya.

Tapi rasanya tak perlu juga menunggu sampai lebaran untuk meminta maaf. Karena waktu Ramadhan juga adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan #MaafIbu. Sebagai inspirasi untuk mengungkapkan #MaafIbu, yuk lihat dulu videonya.

“Kasih Ibu” video Persembahan dari PANTENE dan DOWNY untuk Balas Cinta Tulus dari Ibu, Kolaborasi Dua Diva Indonesia, Anggun C. Sasmi dan Andien membuat kita terinspirasi untuk membalas cinta kasih dan menjadikan momen untuk berterima kasih akan ketulusan cinta seorang ibu.

Lagu dan lirik “Kasih Ibu” mempunyai arti yang berbeda dari kita kecil dan sekarang sudah dewasa atau menjadi ibu. Lagu yang sangat spesial ini hadir sebagai apresiasi atas kasih cinta ibu yang selalu ada untuk kita dan lagu ini juga sangat unik karena liriknya diciptakan dari pesan-pesan di media sosial dengan tagar #MaafIbu. Untuk melihat langsung videonya bisa juga klik link ini tiny.cc/maafibu.

Lagu ini persembahan Pantene dan Downy. Pantene percaya bahwa wanita yang kuat dilahirkan dan dibesarkan oleh wanita yg kuat pula. Dan kekuatan adalah keindahan yang terbungkus dalam sosok seorang ibu. Downy percaya bahwa wewangian bisa mengingatkan kita akan banyak hal, memicu kenangan spesial. Kenangan masa kanak-kanak, bersama Ibu misalnya. Karena itu, Pantene dan Downy menyatukan Andien dan Anggun bersama, dua ibu dari generasi berbeda, untuk menyanyikan lagu spesial untuk merayakan cinta abadi untuk ibu.

Bagaimana, sudah siap kan bertemu, berbincang dan mengucapkan #MaafIbu. Yuk, ikuti juga, foto kontes di account Instagram @the_urbanmama dengan tema #MaafIbu.

Share lirik bagian mana yang menjadi favorit Anda beserta pesan #MaafIbu versi Anda sendiri. Jangan lupa post juga foto terbaik bersama Ibu ya! Ada hadiah seru untuk para pemenang! Cuma sampai tanggal 5 Juni ya. Info lengkap, kunjungi http://bit.ly/tumphotocontest-maafibu

Ah, saya jadi ingat, saya belum menelepon ibu hari ini.

 

 

Bikin Kue Lebaran Tanpa Oven?? Bisa!!

Tags

, , , , , ,

Ngga berasa uda mulai puasa nih. Siapa yang uda kangen dan kebayang sama ketupat, opor ayam dan kue-kue khas lebaran. Saya termasuk di antaranya. Manusia-manusia rantau yang mendadak homesick kalau uda memasuki bulan puasa.

Yang namanya kastangel dan nastar uda kebayang bakal berjejer di meja tamu rumah mama buat dicemilin pas lebaran. Biasanya kalau uda pengen banget, langsung deh pesen kastengel atau nastar di tetangga atau temen yang jago bikin kue.

Hayooo ngaku, siapa yang uda ancang-ancang pesen kue-kue lebaran atau malah uda colong start pre order duluan sama temen-temennya yang jago bikin kue. Saya emang jago bikin jus atau smoothie. Tapi kalau uda bicara kue, saya angkat tangan. Salut deh sama mama-mama yang jago masak kue, bahkan sampai terima pesanan.

Sebenernya suami uda sering banget request buat dibikinin kue-kue khas lebaran. Suami suka banget sama kastengel. Tapi aku nih yang selalu ogah-ogahan. Alasannya macem-macem. Mulai ngga sempet belanja bahan, sampai belum punya alat-alat pembuat kue. Padahal ya, dimana ada niat pasti ada jalan. Jadi, tahun ini saya bertekad mau membuat kue sendiri. Supaya suami makin sayang, ya kaaann…?!

Semesta rupanya mendukung. Sabtu, 20 Mei 2017 lalu saya ikutan #TUMBLoggersmeetup yang kali ini bersama Blue Band mengusung tema #ResepMudahMeriah. Pembicaranya ada ibu muda yang cantik super produktif, Ayudya bing Slamet, chef muda berbakat, Chef Ayu Anjani Raharjo, dan tentunya Brand Manager Blue Band, Nando Kusmanto. Penasaran donk semudah apa dan semeriah apa resepnya…??

Kue-Kue Khas Lebaran, Resep No-Oven Kreasi Blue Band

Ternyata saudara-saudara, yang senasib sepenanggungan sama aku itu ngga sedikit. Banyak banget ibu-ibu yang memilih pesen kue lebaran daripada bikin sendiri. Alasan yang paling common, seperti yang juga diungkap oleh Ayudya adalah minimnya alat-alat baking yang lengkap dan mumpuni termasuk oven. Sempet mikir, ini sih uda impossible deh mau bikin kue apalagi kue kering kalau ngga ada oven. Ternyata saya salah pemirsa. Bikin kue kering tanpa oven itu bisa banget.

Sharing Session Para Pembicara pada #TUMBloggersmeetup

Salah satu cara mensiasatinya adalah dengan menggunakan panci pengukus, tapi hanya memakai sedikit air (sekitar dua sendok makan). Sempet bertanya-tanya nih, emang bisa garing crispy ya masak kue kering pakai panci pengukus. Ternyata bisa lhoh. Chef Anjani membagikan dan mempraktikkan sendiri tips dan trik memasak kue tanpa oven dihadapan kami, para TUMBloggers. Hasilnya, baik rasa, rupa maupun tekstur, bener-bener mirip sama kue yang dimasak pakai oven. Ini dia tiga tips memasak kue tanpa oven:

  1. Pakai panci pengukus berbahan tebal, supaya panci tidak mudah gosong.
  2. Nyalakan api kecil sepanjang proses memanggang, agar adonan matang merata.
  3. Gunakan bahan-bahan berkualitas untuk adonan kue, seperti blue band cake and cookie untuk mendapatkan rasa dan tekstur kue yang lezat.

Chef Anjani mempraktikkan langsung resep modifikasi kue lebaran 

Nah, keterbatasan peralatan sudah teratasi. Bagaimana dengan resepnya? Kalau alat-alatnya sudah dimodifikasi, tentunya ada modifikasi juga untuk resepnya. Bagaimana cara memodifikasinya?

Tenang mama, untuk memperkaya inspirasi resep kue khas lebaran tanpa oven, Blue band sudah punya solusinya. Pak Nando menyampaikan bahwa Blue Band cake and cookie tahun ini meluncurkan 10 resep kue khas lebaran yang tidak memerlukan oven. Mama bisa langsung melihat kumpulan resep no-oven secara grastis dengan mengakses website resmi Blue Band www.blueband.co.id/dapurnooven dan Facebook Blue Band Indonesia.

Pengen bawa pulang kastengelnya . . .

Nah, sudah siap kan memasak kue lebaran sendiri. Semoga berhasil mama 🙂

 

Solusi Evolusi Kuman

Tags

, , , , , ,

Ibu mana yang tak khawatir bila anak-anak sakit. Apalagi, jaman sekarang, semakin banyak jenis-jenis penyakit baru yang sulit disembuhkan bermunculan. Memang teknologi medis semakin hari semakin canggih dan akses memperoleh obat-obatan pun semakin mudah. Namun sayangnya terkadang masih belum diimbangi dengan pengetahuan dan kebijakan dalam penggunaan obat-obatan itu sendiri.

Tak jarang, kita temui perilaku manusia mudah menegak obat-obatan ketika merasakan gejala penyakit yang padahal mungkin bisa sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Atau justru sebaliknya, mengkonsumsi obat-obatan tidak sesuai dosis dan berhenti sebelum tuntas masa pengobatan.

Hal inilah yang menyebabkan beragam virus, bakteri, kuman dan akhirnya penyakit berevolusi. Untuk itu, sebagai ibu, kita tidak boleh kalah dengan evolusi kuman.

Kamis 30 Maret 2018 lalu, dalam The Urban Mama Blogger Gathering, Lifebuoy, sabun kesehatan keluarga dari PT Unilever Indonesia Tbk. memperkenalkan inovasi terbaru Lifebuoy ActivSilver Formula yang mampu memberikan perlindungan tubuh dari kuman yang berevolusi menjadi semakin kuat. Inovasi terbaru ini bertujuan untuk mendukung ibu dalam menerapkan kebiasaan hidup sehat di keluarga sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi penyakit.

img_20170330_191031_947_33914618245_o

Rangkaian Lifebuoy ActivSilver Formula

Peluncuran Lifebuoy ActivSilver Formula, dihadiri dua pembicara:

  • Evan Rickyanto, Senior Brand Manager Lifebuoy PT Unilever Indonesia Tbk.
  • DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K)

Hadir pula, dua public figure sekaligus ibu Indonesia, yakni:

  • Sissy Priscillia, dan
  • Sabai Morscheck

Sesuai dengan survei yang dilakukan oleh Lifebuoy, tujuh dari sepuluh ibu setuju bahwa kuman yang kian beragam dan pertahanan tubuh yang lemah adalah penyebab anak lebih sering sakit dibandingkan ketika mereka kecil dulu.

Untuk mencegah agar keluarga dan lingkungan bebas penyakit, ibu cerdas harus aktif membiasakan pola hidup bersih dan sehat dalam keluarga. Beberapa kiat sederhana untuk menjaga keluarga bersih dan sehat menurut DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K) adalah rajin cuci tangan pakai sabun (CTPS).  Waktu paling tepat untuk CTPS antara lain sebelum dan sesudah makan, setelah dari toilet, setelah main kotor-kotoran dan sebelum masuk rumah. Selain itu tentunya mandi bersih dua kali sehari wajib dilakukan agar tubuh tetap bersih.

img_20170330_190009_182_33914617055_o

DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K) dan Evan Rickyanto

Untuk lebih mendukung ibu menerapkan kebiasaan hidup sehat di keluarga, Lifebuoy terus berinovasi. Terobosan terbaru yang dihadirkan oleh Lifebuoy adalah ActivSilver Formula yang mampu memberikan perlindungan terhadap infeksi kuman penyebab penyakit yang berevolusi semakin kuat. Kenapa harus menggunakan silver?

“Ilmuwan Lifebuoy berhasil menggunakan teknologi ini untuk menghadirkan ActivSilver Formula yang dapat membantu meningkatkan efektifitas dalam melindungi tubuh dari kuman penyebab masalah kesehatan. Lifebuoy dengan ActivSilver Formula telah teruji efektif terhadap berbagai jenis kuman, termasuk kuman yang lebih kuat.” tambah Evan.

Processed with VSCO

Sissy dan Sabai pun setuju, bahwa ibu yang bijak harus tegas menentukan aturan kebersihan dalam rumah. Karena rumah dan anggota keluarga yang bersih adalah awal dari kehidupan yang sehat bebas penyakit.

Kiat Liburan Seru Bebas Khawatir Bersama Keluarga

Travel culture atau budaya berlibur mulai banyak digemari masyarakat di Indonesia. Apalagi, destinasi liburan kini semakin beragam. Semakin banyak tempat-tempat di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia mulai membuka diri untuk dikunjungi beragam wisatawan dari mancanegara.

Kemudahan menjangkau beragam destinasi liburan, mengundang masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan untuk melakukan perjalanan. Dunia seakan tak habis-habisnya menyediakan tempat baru untuk dikunjungi. Baik oleh single traveler, couple traveler bahkan family traveler.

Processed with VSCO

Bicara mengenai liburan bersama keluarga, kadang kita harus berhadapan dengan keruwetan atau drama, yang bahkan sudah dimulai saat merencanakan perjalanan. Keruwetan yang seru inilah yang membuat liburan bersama keluarga tak hanya mampu menyegarkan pikiran dan melepas penat, tetapi juga mampu menguatkan hubungan dalam keluarga.

Meski bagi sebagian keluarga, traveling bersama bisa jadi merepotkan namun bila disiapkan dengan matang, semuanya bisa menjadi lebih mudah. Sabtu, 11 Maret 2017 lalu, saya berkesempatan mengikuti talkshow yang diadakan oleh BNI life bertema “Plan & Enjoy Your Holiday, Keep Your Love One Protected” dengan tiga travel experts sebagai pembicara, yakni Kemal Mochtar, Melissa Karim, dan Tesya Sophianti. 

Processed with VSCO

Dalam talkshow ini, masing-masing travel experts memberikan travel tips serta berbagi pengalaman saat mereka melakukan perjalanan. Berikut adalah lima kiat agar liburan bersama keluarga lebih seru bebas khawatir.

  1. Pilih destinasi yang disukai dan ramah anak-anak. Berbeda dengan traveler dewasa, mood traveler cilik mudah berubah-ubah. Karena itu pastikan tujuan wisata cocok dengan minat dan kondisi anak.
  2. Buat itinerary yang fleksibel agar mudah disesuaikan bila ada hal mendadak. Cuaca, makanan, dan kondisi tempat wisata kadang tidak sesuai harapan kita, apalagi bila berwisata dengan anak-anak. Maka rencanakan liburan dengan matang namun tetap santai tanpa perlu terlalu kaku atau ambisius.
  3. Pilih akomodasi yang dekat dengan tujuan dalam itinerary dan mudah diakses transportasi umum setempat.
  4.  Siapkan, susun dan sesuaikan anggaran menurut kemampuan dan keinginan. Berlibur tentu membutuhkan dana tidak sedikit. Tapi bila budget kita terbatas, bukan berarti kita tidak bisa optimal menikmati liburan. Lakukan research sebelum liburan, cari info tempat-tempat yang sesuai kantong kita. Padukan tempat wisata gratis dan berbayar namun tetap bisa dinikmati seluruh anggota keluarga. Tak lupa, rajin-rajinlah mencari promo untuk lebih menghemat anggaran.
  5. Lindungi keluarga dengan mempersiapkan obat-obatan dan asuransi. Berlibur kemanapun bukan tanpa risiko. Hal tidak terduga kadang turut mewarnai masa berlibur. Tak jarang perbedaan kondisi kerap mempengaruhi fisik kita dan anak-anak. Maka siapkan selalu obat-obatan dan vitamin. Tak ada salahnya kita melindungi diri dan keluarga dengan asuransi yang bisa diterima di seluruh dunia, seperti BNI life (www.bni-life.co.id). Agar bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat berlibur, setidaknya secara finansial, kita tidak perlu khawatir.

Jarak atau frekuensi berlibur memang tidak menentukan kebahagiaan kita. Namun berlibur jelas mampu menyegarkan kondisi diri kita dan membuat kita lebih mensyukuri apa yang kita miliki.

33469326795_f236e81a5e_o

Tak hanya itu, berlibur bersama keluarga dan anak-anak khususnya mampu memberi banyak wawasan serta pelajaran. Saat traveling kita akan melihat dan merasakan lebih banyak keragaman baik dari dalam keluarga sendiri, maupun dari tempat yang kita kunjungi. Dan secara langsung atau tidak, kita akan belajar memahami, menghargai serta lebih toleran terhadap lingkungan sekitar. Dan tentunya, perjalanan keluarga akan menjadi lebih tenang bila sudah terlindungi.

Peran Ayah dalam Pengasuhan

Sebelum bicara tentang peran ayah dalam pengasuhan, ingin rasanya curhat. Kebetulan saya sedang mencari SD untuk anak-anak saya. Tentunya di jaman serba digital seperti sekarang, pencarian bisa via apa saja termasuk rekomendasi dan referensi dari forum, chat group, dan website sebelum akhirnya survey langsung ke sekolah-sekolah yang menurut kami cocok potensial mengakomodasi kebutuhan anak-anak.

Suatu ketika, beberapa teman saya memberi referensi tentang beberapa sekolah yang oke. Alasannya karena pendidikan agama di sekolah-sekolah tersebut dinilai kuat dan kokoh. Jadi, pasti aman menitipkan anak-anak di sekolah-sekolah tersebut.

“Anak lo sekolah di sini aja, Ndah. Agamanya kuat banget.”

“Di sini sekolahnya OK. Aman lah agamanya kalau anak sekolah di sini.”

Kesannya, biarlah orang tua pengetahuan agamanya pas-pasan, asal anaknya bisa jauh lebih pinter dan sholeh dengan bersekolah di sekolah beragama. Tentu saja, siapa tak ingin anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan benar lagi cerdas mandiri.

Namun bathin saya justru merasa janggal. Bukan pada sekolah-sekolah yang oke itu, tapi justru pada orang-orang tua yang kesannya ingin ‘menyerahkan’ pendidikan agama anak pada sekolah. Bukankah pondasi karakter yang kuat, baik dan benar pada anak berawal dan berasal dari orang tua? Bukankah pendidikan (termasuk agama) yang baik itu berawal dari orang tua? Dan bukankah pendidikan yang berkualitas, didasari sinergi yang kuat dari orangtua dan sekolah?

Sebelum pembahasan mencari sekolah menjadi semakin panjang, kembali dulu ke laptop ya. Tentang peran ayah dalam pengasuhan. Kenapa kok di awal bahas sekolah sebelum bahas ke ayah?

Karena sama halnya dengan pendidikan yang baik, yang merupakan sinergi sekolah dan orang tua, pengasuhan yang baik juga merupakan sinergi ibu dan ayah. Benar adanya bahwa kewajiban ayah mencari nafkah. Ayahlah yang kodratnya menjadi tulang punggung. Namun bukan berarti bisa lepas tangan kewajiban mendidik dan mengasuh anak. Karena mengasuh dan mendidik anak adalah tugas orang tua. Bukan ibu saja atau ayah saja. Melainkan keduanya.

Sama dengan pendidikan anak, apalagi pendidikan agama. Tidak bisa diserahkan hanya pada sekolah. Orang tua wajib belajar untuk dapat membimbing anak.

Oke, kembali ke laptop lagi. Ayah. Perannya dalam pengasuhan. Sepenting apa sih peran ayah. Idealnya, keluarga yang utuh dibangun di atas pondasi, tiang dan atap yang kuat. Yang merupakan sinergi dari ayah dan ibu. Tidak ibu saja, Tidak ayah saja. Apalagi nanny atau baby sitter saja.

Di era dimana informasi melaju begitu cepat, anak-anak kita yang merupakan digital native dapat dengan mudah menerima beragam ‘pengetahuan’ baru. Anak-anak yang daya serapnya bak spons kualitas terbaik menerima semua informasi dengan cepat. Informasi baik atau tak baik. Canggih sekaligus mengkhawatirkan. Karenanya, kemampuan menyerap harus berimbang dengan kemampuan menyaring. Bila tidak, informasi-informasi sampah akan ikut tercerna dan bukan tidak mungkin merusak jiwa, pikiran dan fisik anak-anak kita.

Apa dampaknya informasi yang terserap namun tak tersaring? Beberapa di antaranya, penyalahgunaan narkotika, pergaulan bebas dan LGBT. “Penyakit-penyakit” yang semakin hari semakin marak dan populer ini tidak diturunkan. Melainkan ditularkan. Persebarannya begitu cepat. Siapa yang mampu melindungi anak-anak? Pelindung nomor satu, jelas, orang tua. Ibu dan Ayah.

Bagaimana caranya? Tahun 2015 lalu, tepatnya tanggal 21 November di Motivation Hall-AXA Tower, Kuningan City, Jakarta saya berkesempatan mengikuti seminar “PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN” dengan pembicara Ibu Elly Risman, Psi. Seminar ini dimotori oleh KAMPUNG KELUARGA.

Sesuai judulnya, seminar ini menitikberatkan fokus pada peran Ayah dalam pengasuhan. Dari masa ke masa, peran ayah selalu identik dengan pencari nafkah. Sedangkan urusan rumah tangga, termasuk pengasuhan anak, diserahkan pada ibu. Bahkan kadang, karena ibu pun turut mencari nafkah tidak sedikit pengasuhan anak diserahkan pada nenek-kakek hingga nanny atau baby sitter. Padahal, di usianya, nenek-kakek sudah memiliki kebutuhan sendiri. Mereka butuh lebih banyak waktu beribadah. Waktu untuk kegiatan vertikal. Tenaga mereka tak cukup kuat mendampingi anak-anak kita. Nanny atau baby sitter sebaik apapun, boleh jadi mampu mengawasi fisik anak-anak kita. Namun bagaimana dengan hati, emosi dan spiritual anak.

Orang yang paling tepat mendampingi, mendidik, dan mengasuh anak-anak, tak lain dan tak bukan adalah kita, orang tua. Ibu dan ayah. Fokus kepada ayah, kenapa peran ayah begitu penting. Karena Ayah adalah sosok pemimpin, pelindung, penjaga dan penenang. Ayah yang menentukan garis besar haluan keluarga. Ayah yang memiliki kewenangan kemana arah rumah tangga akan dijalankan. Karena itu, sangat tidak mungkin rumah tangga akan aman terkendali jika ayah hanya sibuk menjalankan peran pencari nafkah, tanpa membimbing istri dan anak-anaknya.

Jika keluarga kehilangan sosok pemimpin pada ayah, katakanlah ayah terlalu sibuk bekerja, maka kapal rumah tangga seolah akan kehilangan arah meski tangki bahan bakar terisi penuh. Bukan tak mungkin kapal itu hanya terombang ambing di laut lepas tanpa tujuan.

Namun bagaimana cara ayah menjaga keluarga, di tengah kesibukan mencari nafkah? Luangkan setidaknya 30 menit bersama anak. Bicara setiap hari, lakukan kontak dengan anak. Jalin komunikasi dan kedekatan, agar anak memiliki kepercayaan kepada ayahnya. Agar anak merasakan cinta ayahnya. Sehingga mereka tak perlu lagi mencari cinta lain di luar keluarga.

Ayah memang wajib menyediakan keuangan, makanan, pakaian, rumah dan isinya. Ayah juga wajib menyediakan perawatan diri, harta dan benda bagi keluarga. Di situ saja memang sangat berat. Tapi, ingat, ayah adalah pemimpin keluarga. Bukan jomblo yang hanya perlu mencari nafkah untuk diri sendiri lalu bebas tugas. Ayah wajib juga memberi pemantauan, pelatihan, memberi contoh yang baik dan benar pada keluarga. Berat?? Mungkin. Tapi sungguh, lebih berat menanggung akibatnya jika ayah cuek dengan keluarga. Saat ini, toleransi kadang sudah kebablasan. Narkoba, LGBT, seks bebas seakan menjadi hal biasa. Jangan biarkan hal itu terus terjadi. Orang tua bisa mencegahnya. Ayah dan ibu bisa mencegahnya dengan memberi perhatian sepenuh hati dan membekali anak-anak dengan pondasi agama dan cinta yang kuat.

Janganlah negara ini menjadi the fatherless country. Dimana suami kita, ayah dari anak-anak kita hanya mengambil peran dalam pemenuhan materi. Libatkan suami, libatkan ayah dalam pengasuhan anak. Sungguh, keberadaan sosok ayah begitu berarti bagi anak-anak kita, generasi masa depan dunia.

 

Kontrasepsi Andalan Keluarga Berencana

Tags

, ,

Awalnya, saya bukan seorang yang pro kontrasepsi. Saya ingin memiliki banyak momongan, supaya rumah ramai dengan senda gurau anak-anak. Namun, sejak melahirkan anak pertama, saya dan suami sepakat untuk menunda memiliki momongan lagi. Paling tidak sampai usia sang kakak menginjak tiga tahun.

Sayangnya pada saat itu, kesepakatan kami tidak diikuti dengan aksi nyata. Padahal dokter kandungan saya sudah mengedukasi pentingnya penggunaan kontrasepsi. Tapi karena takut, akhirnya saya memilih untuk menunda penggunaan kontrasepsi jangka panjang.

Jadilah saat itu, kami ‘hanya’ mengandalkan kondom dan kontrasepsi alami, yakni dengan menyusui. Saya pernah membaca, bahwa semakin sering menyusui bayi, maka otak kecil ibu mampu memproduksi hormon prolaktin lebih banyak. Semakin banyak hormon prolaktin, maka bisa menekan masa subur (ovulasi) dan membuat ibu menyusui menjadi tidak subur.

Kebetulan saya baru menstruasi kembali setahun setelah melahirkan. Pola menstruasi juga masih belum teratur. Jadi saya pikir, mungkin saya belum subur. Merasa terlena, saya pun jadi kurang disiplin memakai kondom. Karena, meski cara penggunaan kondom ini cukup sederhana, terus terang pemakaiannya agak menginterupsi momen kebersamaan dengan suami. Akhirnya, setelah tiga kali menstruasi, saya kembali mengandung.

Tentunya saya bersyukur kembali diberi kepercayaan. Namun dalam hati ada sedikit kekhawatiran. Diantaranya, saya masih menyusui sang kakak, meski memang kebutuhannya akan ASI tidak se-esklusif ketika masih bayi. Belum lagi nantinya, saya harus membagi perhatian antara sang bayi dan sang kakak yang mulai aktif berkembang.

Akhirnya, setelah melahirkan anak kedua, saya pun mantap memakai kontrasepsi. Bukan lantaran kapok melahirkan dan memiliki anak lagi ya. Lebih kepada ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak kami kelak.

Processed with VSCO

Saat di hadapan dokter kandungan, saya masih berdiskusi panjang lebar memilih kontrasepsi yang cocok. Pilihan kami akhirnya jatuh pada kontrasepsi IUD. Sebagai informasi, IUD (intrauterine device) adalah alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim, tanpa hormon dan tidak mengganggu kesuburan.

Pertimbangan saya dan suami dalam memilih kontrasepsi IUD ini antara lain karena IUD efektif untuk jangka panjang. Sekali pasang, bisa tahan hingga bertahun-tahun. Saya sendiri menggunakan IUD dengan masa lima tahun, dan sekarang sudah memasuki tahun keempat. Alhamdulillah semua lancar.

Semakin mantap memilih IUD karena IUD merupakan kontrasepsi non-hormonal. Selain terhindar risiko ketidakstabilan atau ketidakcocokan hormon, IUD tidak akan mempengaruhi produksi ASI. Sehingga sangat cocok untuk ibu menyusui, seperti saya kala itu.

IUD juga praktis dan ekonomis. Harga IUD relatif terjangkau mengingat masa kerjanya yang relatif panjang. Dan saya hanya perlu kontrol posisi IUD setahun sekali. Jadwalnya bisa sekalian disatukan papsmear. Sekali datang, dua keperluan ibu terpenuhi.

Asal rutin melakukan pemeriksaan, IUD relatif aman dan nyaman digunakan. Selain tidak mengganggu kebersamaan dengan suami, IUD juga tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Sebagai guru yoga dan ibu dua anak, tanpa asisten rumah rumah tangga, saya hampir tidak pernah merasakan gangguan berarti selama memakai IUD.

Processed with VSCO

Semoga artikel menganai kontrasepsi ini bisa memberi manfaat dan referensi bagi mama yang sedang merencanakan masa depan keluarga. Bagi saya (dan suami) memilih dan menggunakan kontrasepsi bukan hanya perkara mencegah, menunda atau merencanakan kehamilan semata. Lebih dari itu, kontrasepsi mengambil peranan penting dalam merencanakan masa depan keluarga, yang bahagia dan berkualitas.

Sudahkah Anda Berinvestasi untuk Kesehatan

Tags

, , ,

Tahun 2016 boleh dibilang tahun paling berkesan bagi saya. Karena di tahun ini saya menjalani banyak hal baru dan pengalaman-pengalaman baru.

Salah satu pengalaman paling berkesan di tahun ini adalah ketika saya mengajar yoga di acara #TUMHealthyMama : Investasi Tulang Sehat untuk Masa Depan bersama Protecal. Bahagia rasanya melihat antusiasme para mama yang rela datang pagi-pagi di akhir pekan untuk olahraga bersama. Dalam hati saya menjadi terinspirasi akan semangat mama-mama cantik ini. Semangat untuk sehat, semangat untuk bahagia.

whatsapp-image-2016-12-31-at-16-36-36

pic by Dewi @deravee

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya sepanjang April 2016, saya mengambil program yoga teacher training. Bukan hanya karena saya pribadi suka dengan yoga, tapi jauh di lubuk hati, karena saya juga ingin menginspirasi para mama di luar sana untuk mencintai diri sendiri dengan menjaga kesehatan tubuh, pikiran dan jiwa. Saya merasa, yoga memiliki paket lengkat untuk mencapai tujuan itu. Karena itu, sejak tahun 2015 saya berusaha mencari sekolah dan menabung agar kelak saya bisa mengajar yoga. Dan alhamdulillah, tahun 2016 semua tercapai. Bahkan di penghujung tahun 2016  saya bisa mengajar di event yang diadakan The Urban Mama, tempat saya mendapat beragam ilmu seputar dunia ibu dan keluarga.

whatsapp-image-2016-12-31-at-16-35-24

courtesy: The Urban Mama

Sejak menikah dan memiliki anak, saya selalu meyakini bahwa kesehatan adalah aset yang utama. Tanpa tubuh, pikiran dan jiwa yang sehat, kita tidak bisa menjalani dan menikmati hidup sepenuhnya. Karenanya, saya pasti rela kalau harus ‘berinvestasi’ terkait masalah kesehatan. Karena, ketika kita jatuh sakit, pasti biaya, waktu dan energi yang harus dikeluarkan akan lebih besar.

Beberapa bentuk investasi kesehatan yang saya lakukan adalah saya memilih membeli juicer dengan kualitas baik agar tiap pagi saya dapat minum jus segar ketimbang harus menikmati teh atau kopi di kedai kopi yang hits. Saya pun rela tidur lebih awal dan bangun lebih awal untuk bermeditasi dan beryoga di bawah dibawah hangatnya sinar matahari pagi ketimbang meneruskan mimpi di pulau kapuk. Karena saya tahu tidur cukup, mengkonsumsi asupan sehat bergizi, serta olahraga teratur dapat memperkuat tubuh kita dan memberi peluang lebih banyak bagi kita untuk menjalani hidup berkualitas lebih lama.

Nah, tubuh yang sehat itu mencakup banyak faktor. Dari kulit, otot, metabolisme, sistem pencernaan dan tulang. Semua memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Untuk memdapatkan tulang yang sehat dan kuat misalnya, kita harus cukup mengkonsumsi kalsium dan vitamin. Juga harus rajin ‘berjemur’ di bawah sinar matahari pagi dan berolah raga, agar daya tubuh untuk menyerap vitamin D dan kalsium bisa lebih baik. Makanan-makanan terbaik yang bisa dikonsumsi untuk mencapai tulang sehat diantaranya adalah bayam, brokoli, almond, bok choy, flaxseed, kale dan biji wijen. Kalau merasa kurang cukup, kita bisa menambah asupan suplemen tulang seperti protecal agar kepadatan tulang kita tetap terjaga. Mudah kan.

whatsapp-image-2016-12-31-at-16-39-25

courtesy: The Urban Mama

Jadi, tidak ada alasan lagi ya untuk tidak menjalankan pola hidup sehat. Sesungguhnya, bila tubuh kita sehat dan tulang kita kuat, tak hanya hidup kita saja lho yang terasa lebih mudah, kita juga lebih berpotensi ‘memudahkan’ hidup orang lain. Karena saat kita sehat, kita lebih bebas melakukan banyak hal dan mengoptimalkan kualitas hidup kita.

Selamat Tinggal Dunia Lama

Tags

, , ,

Setiap akhir tahun, saya selalu teringat akan kalimat ini “sehari terasa lama, namun setahun terasa begitu cepat” . 

Semakin terbawa perasaan kalau sembari lihat-lihat album foto. Jadi teringat masa-masa baru menikah, masa-masa hamil, detik-detik menjelang persalinan, hingga momen-momen menyusui. Tergambar dengan jelas di kepala tumbuh kembang anak dari bayi, batita, hingga sekolah. Ah, rasanya waktu berlalu begitu cepat.

Di masa-masa lalu itu, tak jarang saya melalukan beragam kesalahan. Sebagai istri terhadap suami, sebagai ibu kepada anak, sebagai anak terhadap orang tua, sebagai guru terhadap murid-murid saya, sebagai murid terhadap guru-guru saya, sebagai kakak terhadap adik-adik kesayangan saya, serta sebagai teman kepada sahabat-sahabat saya.

Penyesalan tentu ada. Mungkin bagi sebagian orang, penyesalan itu sia-sia. Namun bagi saya, penyelasan tidaklah percuma bila kita mampu belajar dari kesalahan dan bergerak ke depan dengan langkah yang lebih baik.

Dengan beragam peran yang saya jalani saat ini, sebagai sebagai istri, ibu, anak, guru, kakak, dan sahabat, tentunya saya ingin melakukan ‘tugas’ saya dengan sebaik mungkin. Saya sadar, peran saya begitu penting, setidaknya bagi orang-orang terdekat saya. Untuk itu, saya harus mampu melangkah ke depan dengan lebih baik. Meninggalkan kesalahan, kelalaian, kemalasan. Meninggalkan dunia lama yang kurang baik dan meraih masa depan yang lebih cerah.

Sebagai ibu, saya selalu berkomitmen untuk menjaga keluarga saya, agar selalu sehat dan bahagia. Nampak sederhana, namun sama sekali tidak mudah. Salah satu contohnya, saya selalu berusaha untuk memasak makanan sehat bergizi untuk suami dan anak-anak. Namun kadang, saat travelling atau kesibukan, saya tidak memasak dan terpaksa membeli makanan di luar. Atau kadang, saya masih suka mengajak anak-anak pergi keluar sampai malam. Akhirnya, setibanya di rumah, mereka jadi tidak sempat bebersih lagi. Ada lagi, kadang saya suka malas ‘bergerak’ saat ada waktu luang. Padahal, saya bisa saja mengajak anak-anak bermain di taman, menikmati udara segar, berlarian di atas rerumputan dan di bawah langit biru.

Di tengah kegalauan akhir tahun, kebetulan sabtu 17 Desember lalu, saya berkesempatan mengikuti #TUMBloggersMeetUp bersama #TheUrbanMama dan Unilever Indonesia. Acara ini, cukup menenangkan kegalauan saya.

Kenapa?

Karena dalam acara ini, Unilever melalui kampanye brightFuture yang mengusung tema “Selamat Tinggal Dunia Lama bermitra dengan Blibli.com mengajak konsumen untuk melakukan hal nyata untuk membangun masa depan yang cerah.

courtesy: The Urban Mama

courtesy: The Urban Mama

Oiya, acara yang diselenggarakan di D’labs Menteng ini, diisi oleh ibu-ibu cerdas dan cantik. Dipandu oleh MC mbak Vika, dilanjutkan dengan kata pembuka oleh founder The Urban Mama, Ninit Yunita dan menghadirkan 3 narasumber yaitu:

  1. Maria Dewantini Dwianto (Mia), Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk
  2. Lani Rahayu, Senior Marketing Communication Manager Blibli.com
  3. Psikolog Retno Dewanti Purba dari SAUH Psychological Services

Apa saja sih wujud nyata dari kampanye brightFuture ini?

Unilever menggandeng Blibli.com untuk mengedukasi konsumen melalui program kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan komunitas di sekitar area bermain publik di 5 Kota (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Makassar). Program yang dijalankan dengan Blibli.com tidak hanya mengajak peran aktif masyarakat dalam mewujudkan dunia yang lebih sehat dan gembira lewat ranah digital. Namun juga menggandeng komunitas dan pemerintah di sekitar taman bermain umum untuk memanfaatkan dan menjaga fasilitas yang telah dibangun. Tentunya fasilitas yang sudah ada bisa dimanfaatkan dengan baik bila komunitas setempat ikut merawat.

Selain menggandeng komunitas setempat untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga
kebersihan taman, kerjasama Unilever dengan Blibli.com ini juga mengusung
program edukasi seputar kesehatan, lingkungan, dan bijak dalam berbelanja online
yang ditujukan untuk para ibu.

Kenapa harus ibu?

Karena ibu bisa menggerakkan anak-anak, generasi penerus bangsa untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan baik seperti mencuci tangan memakai sabun, sikat gigi pagi dan malam, mengetahui pentingnya sarapan bergizi, ditambah dengan cara menjaga toilet agar tetap bersih, bermain di luar ruang, memilah sampah, serta bijak dalam berbelanja online.

courtesy : The Urban Mama

courtesy: The Urban Mama

Berarti dan penting sekali ya peran kita sebagai ibu. Karena itulah kampanye brightFuture oleh Unilever bekerjasama dengan Blibli.com dimulai dari para ibu. Harapannya, berawal dari ibu-ibu bijak yang berpikiran terbuka dan mau terus belajar, akan menggugah semakin banyak pihak lagi untuk memiliki kesadaran dan kepedulian yang sama serta mulai melakukan tindakan nyata untuk kehidupan yang lebih baik.

Kampanye ini juga diharapkan mampu menginspirasi komunitas yang lebih luas dalam perilaku hidup bersih dan sehat, juga bijak dalam belanja online. Setiap tindakan, sekecil apapun, bila dilakukan bersama sama secara konsisten, niscaya akan bisa membuat perubahan besar.