Tags

, , ,

Dear Mommies… Banyak ibu di Indonesia juga bekerja di berbagai perusahaan. Tapi tidak banyak dari mereka, mengetahui dan memahami hak-hak ibu bekerja…  Bagaimana dengan Anda…??

Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap pekerja wanita berpedoman pada UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan khususnya pasal 76, 81, 82, 83 84, pasal 93, Kepmenaker No. 224 tahun 2003 serta Peraturan Perusahaan atau perjanjian kerja bersama perusahaan yang meliputi:

Perlindungan Jam Kerja

Perlindungan dalam hal kerja malam bagi pekerja wanita (pukul 23.00 sampai pukul 07.00). Perusahaan diharuskan memberi makanan dan minuman bergizi bagi pekerjanya saat bekerja malam. Dalam pelaksanaannya masih ada perusahaan yang tidak memberikan makanan dan minuman bergizi tetapi diganti dengan uang padahal ketentuannya tidak boleh diganti dengan uang

Peraturan Cuti Haid

Pasal 81 di UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa  “Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.”

Peraturan ini sering menjadi celah bagi para oknum pekerja wanita yang tidak bertanggung jawab untuk bolos kerja, sehingga banyak perusahaan meniadakan cuti haid, dan memotong hari alpa ke dalam cuti sakit. Ada baiknya anda mendiskusikan hal ini pada HRD, terutama jika haid anda memiliki gangguan.


Peraturan Cuti Hamil dan Cuti Keguguran

Seorang karyawan wanita terpaksa masuk kantor setelah seminggu di rawat di rumah sakit karena keguguran. Alasannya, karena ia tidak enak dengan atasan yang kerap menelpon ke rumah dan menanyakan dokumen ini-itu.

Ketahuilah, bagi wanita yang mengalami musibah keguguran, anda memiliki hak cuti 1,5 bulan sesuai dengan UU no 13 tahun 2003, pasal 82. Bagi kebanyakan perusahaan, cuti ini diberikan bagi para wanita untuk memulihkan kondisi fisik dan emosionalnya.


Peraturan Cuti Melahirkan

Menurut UU no 13 tahun 2003 pasal 82 nomor 1 : “Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.”

Peraturan tersebut berlaku pada seluruh karyawan wanita. Beberapa kantor malahan bersikap fleksibel mengenai kapan anda bisa mengambil cuti. Asalkan tiga bulan, tidak masalah apakah cuti tersebut akan diambil dekat masa lahiran ataukan sesuai peraturan (1.5 bulan di muka, dan 1.5 bulan setelah lahiran)

Pemberian lokasi menyusui

Pemberian kesempatan pada pekerja wanita yang anaknya masih menyusu untuk menyusui anaknya. Kesempatan ini mencakup waktu dan ruang (fasilitas) bagi wanita untuk memerah ASI dan kemudian diberikan kepada anaknya.

Nah, sudah tahu kan hak-hak wanita bekerja. Gunakan secara bijak yah…

cheers,

Indah – momAmore

Advertisements