Tags

, ,

Dear lovely Mama…

Mama pasti pernah merasakan, ketika menjadi orang tua baru, banyak sekali hal-hal yang ternyata sangat perlu kita pelajari untuk membesarkan buah hati kita dengan sempurna. Mulai masalah kesehatan (pemberian ASI, imunisasi, penanganan ketika anak sakit, dll), parenthing, agama, sekolah hingga perencanaan keuangan.

Namun, sadarkah kita bahwa orang tua adalah teladan bagi anak. Termasuk dalam hal keuangan. Kebiasaan-kebiasaan kita mengatur keuangan, sedikit banyak akan terlihat oleh anak. Dan cepat atau lambat, langsung maupun tidak langsung, diajarkan atau tidak, mereka akan melakukan sikap yang sama seperti kita menyikapi uang dan kondisi keuangan. Ya, teladan lebih dari berjuta kata.

Sebagai orang tua, tentunya kita ingin mempersiapkan, mengajarkan dan menularkan kebiasaan baik pada anak. Termasuk tentang keuangan. Kita juga tentu ingin anak kita mampu menjadi raja terhadap uang dan bukan sebaliknya. Menjadikan uang sebagai alat dan bukan tujuan.

Kita sangat beruntung, hidup di zaman serba mudah dalam mendapatkan akses informasi yang kita perlukan. Kita dapat dengan mudah mengikuti seminar money talk, membaca buku finansial, hingga tinggal klik ke situs-situs referensi keuangan, seperti www.liveolive.com yang mengandung berbagai informasi bagi wanita khususnya, untuk mendapatkan kiat-kiat mengatur keuangan sehari-hari. Dari sekedar browsing di internet (salah satunya dari artikel ini), membaca buku, hingga mengikuti seminar, kita bisa memperkaya wawasan dan mengubah diri menjadi pengajar sekaligus teladan yang baik bagi anak-anak kita.

Lalu, poin apa saja yang harus kita ajarkan pada anak dan mulai kapan?

Pada dasarnya, ada empat hal yang bisa kita ajarkan pada anak sejak dini sesuai urutan perlakuannya, yaitu earn, save, spend, donate. Sejak dini itu kapan. Bagi saya sejak kita mampu berkomunikasi dua arah dengan anak. Saya akan paparkan penjelasan sekaligus contoh konkrit dari kehidupan sehari-hari.

1. Earn. Kita harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Termasuk mendapatkan uang. Hal ini pula yang harus kita ajarkan pada anak. Mereka harus berusaha dulu, baru akhirnya mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Misalnya, anak diajak membantu mengaduk adonan baru mereka bisa mendapatkan cookies lezat buatan mama. Atau, mengajak anak merawat taman, baru mereka mendapat voucher membeli ikan mas koki. Sederhana namun mengena.

2. Save. Berapapun jumlah uang hasil yang kita dapat, pastikan kita menabungkan sebagian. Tularkan pula kebiasaan ini pada anak. Realisasi sederhananya, beri anak-anak celengan atau bila sudah cukup besar, buat rekening tabungan atas nama mereka. Berikan buku tabungan pada mereka dan tunjukkan saldo tabungan mereka. Ajak mereka menabung sebagian dari uang saku, angpao, uang hadiah dan lain sebagainya. Katakan, dengan bertambahnya tabungan, maka kelak mereka dapat membeli sendiri sesuatu yang berharga, tanpa meminta pada orang tua.

yuk, biasakan menabung sejak dini… Pakai celengan lucu, biar semangat…

3. Spend. Smart mama, smart kids, smart shopper. Belanja nampak mudah yah, apalagi buat wanita. Belanja seperti bagian dari kewajiban sekaligus refreshing. Tapi smart shopper tentu harus punya perencanaan yang baik dalam belanja. Sebagai wanita dan ibu, kita harus punya jurus belanja cerdas yang juga bisa ditularkan pada anak.

*) Pilih dan bandingkan harga dan kualitas barang. Sebenernya ini ciri khas dan keahlian perempuan yah. Keliling mall, pasar, pusat perbelanjaan demi mendapat barang bagus dan murah. Hei, kalau memang bener bisa dapat barang bagus dan harga miring, kita rela kok. Dan ini contoh yang baik lho buat anak. Agar anak-anak juga tidak mudah jatuh cinta buang uang terhadap satu barang.

*) Tawar harga. Kalau bisa mendapat harga lebih murah dari yang ditawarkan, kenapa ngga. Banyak lho barang-barang ditawarkan dengan harga di atas rata-rata. Kalau kita bisa dapat harga murah dan pedagang tetap untung, judulnya win win solution kan. Ajak anak untuk sesekali menawar harga barang yang mereka inginkan. Kalau berhasil, mereka bisa belanja barang lebih banyak dari uang kembalian kan.

*) Buat daftar belanja dan rencana anggaran harga. Tentukan dan prioritaskan barang apa saja yang kita butuhkan, baru beranjak ke barang yang kita inginkan. Hindari sejauh mungkin memberi barang seketika dan impulsif. Belanja juga perlu kacamata kuda. Jangan gampang ngiler dengan barang-barang tertentu yang terlihat lucu dan menggoda.  Kalau memang berencana beli sepatu lari, ngga usah deh mampir-mampir ke display wedges atau high heels. Apalagi kalau iman mudah goyah. Atau kalau memang mau mengajak anak beli buku, ngga usah juga lirik-lirik deretan mainan terbaru. Kebiasaan ini akan membuahkan disiplin belanja cerdas pada diri dan anak kita. Susah memang, tapi baik untuk ditularkan.

4. Donate. Penting untuk anak ketahui bahwa mereka beruntung memiliki kita, orang tua yang terbilang mampu. Penting bagi mereka untuk selalu bersyukur atas apa yang mereka dapat nikmati. Penting juga untuk mereka tahu bahwa banyak sekali orang-orang yang kurang beruntung dan kesusahan di luar sana. Tapi, tahu saja tentu tidak cukup. Ajak dan biasakan anak untuk beramal. Tunjukkan bahwa kita tahu dan kita peduli akan sesama. Ajak mereka menyisihkan sebagian uang belanja untuk kemudian dimasukkan ke kotak amal, diberikan kepada pengemis atau sekedar membeli amplop pada penjual tua. Semakin anak terbiasa berdonasi, semakin terasah pula rasa kepedulian mereka.

Jadi, empat hal di atas sudah cukup sebagai bekal kita menjadi teladan keuangan bagi anak?

Tentu saja belum. Kelak ketika anak-anak kita beranjak lebih dewasa, mereka akan berhadapan dengan kebutuhan yang lebih besar. Sebelum saat itu tiba (Ya, kecuali kita keturunan raja saudagar dengan harta tak terhingga), kita harus mengenalkan mereka tentang hutang dan investasi beserta risikonya.

  1. Hutang. Beritahukan pada anak-anak, bahwa kelak mungkin mereka akan berhadapan dengan hutang. Ajarkan untuk bijak dalam berhutang. Tegaskan untuk berhutang untuk hal-hal yang memang perlu. Seperti kredit kepemilikan rumah (KPR). Hindari berhutang pada teman dan bergantung pada kartu kredit. Berhutang pada teman hanya mempertaruhkan hubungan harmonis yang telah terjalin. Dan perlu ditanamkan bahwa kartu kredit bukan uang ekstra tak terhingga, tapi hutang yang harus kita bayar.
  2. Investasi. Anak yang menyaksikan perjalanan dan kisah sukses orang tua, cenderung mengikuti jejak baik tersebut. Maka, ketika anak mulai beranjak remaja, ajaklah mereka mengetahui dan mintalah pendapat mereka dalam berinvestasi. Misalnya ketika kita mau membeli sebidang tanah atau unit apartemen. Ajak mereka melihat kondisi lapangan, lalu minta pendapat mereka. Setelah itu, masuk tahap selanjutnya, memberi kesempatan mereka berinvestasi. Tentunya dengan tabungan mereka sendiri. Kenalkan pada mereka instrumen-instrumen investasi, secara perlahan. Seperti deposito berjangka, reksadana, saham. Kelak, mereka akan tahu risiko serta keuntungan berinvestasi.

Bagi yang anak-anaknya masih kecil (seperti saya), it’s learning time. Kita masih punya cukup waktu untuk membiasakan diri hanya berhutang yang baik serta melakukan investasi secara berkala. Gali wawasan sebanyak mungkin sehingga kelak bisa kita ajarkan dan teladankan pada anak-anak.

Oke, setelah proses panjang menjadi teladan keuangan yang baik, sebenernya apa sih goal utamanya? Apa hanya sekedar perkenalan dan percontohan aja?

Tentu tidak donk. Goal dari semua pembelajaran kita menjadi teladan keuangan adalah agar kelak anak-anak mampu mandiri. Yup, menjadi mandiri. Independent. Mampu secara mandiri menentukan tujuan finansial mereka, melihat kondisi awal mereka pada saat itu, mengukur waktu dan keterbatasan mereka, hingga akhirnya mampu menemukan cara mencapai tujuan tersebut.

Tanpa kita sadari, yang awalnya apapun kita pelajari untuk anak, sebenarnya memberi dampak bagi pribadi dan sikap kita sendiri. Positif maupun negatif. Dan dalam perkembangannya akan menjadi kebiasaan yang terlihat oleh anak. Termasuk hal keuangan. Maka dari itu, mari perkaya pengetahuan keuangan kita dengan referensi terpercaya.

Untuk mama yang sibuk, berselancar di internet sebenernya cukup, lho. Asal situs keuangan yang dikunjungi mumpuni sebagai sumber informasi. Rekomendasi saya, mama bisa berkunjung ke https://www.facebook.com/MyLiveOlive dan ”Like” Fan page Facebooknya, “Follow” twitter : https://twitter.com/MyLiveOlive,  “Follow” Google+ Page : https://plus.google.com/b/109724956281090737591, dan “Subscribe” ke channel YouTube : http://www.youtube.com/user/MyLiveOlive. As easy as one two three, right…?!?! Eits, tapi jangan cuma berkunjung aja. Setelah browsing, segera praktik yah. Supaya ilmunya bermanfaat.

Cheers,
Indah – momAmore

Advertisements