Tags

, , , , ,

Dear Indonesia…

Pasti kita pernah mendengar kalimat, “Yuk, Buang Sampah pada Tempatnya” . Ajakan yang simpel dan klise yah. Pasti  dari kecil kita sering dengar kalimat ajakan itu. Tapi ngerasa ngga sih, kalau ajakan yang menggema sejak otak kita masih sangat muda itu ngga sepenuhnya mempan.

Sebenernya, kenapa yah kayanya susah banget sekedar buang sampah pada tempatnya. Kayanya sampah-sampah tetep aja numpuk dimana-mana. Lihat saja, banyak tempat di Jakarta menjadi tempat timbunan sampah dadakan. Sungai, rawa, taman, hingga sebagian ruas jalan. Pemandangan yang memprihatinkan namun sering dijumpai. Sebenernya apa sih susahnya buang sampah pada tempatnya. Kenapa susah. Dimana susahnya. Apa sih akar masalah sampai sampah-sampah itu nangkring dimana-mana.

Yuk, kita coba buka mata dan buka telinga lebar-lebar tentang sampah dan tempat sampah yang tepat. Dan wujudkan Indonesia bersih.

yuk buang sampah pada tempatnya

Sekedar informasi, pemerintah kita sudah memiliki beberapa dasar hukum dan pedoman tentang pengelolaan sampah, yang tertuang dalam undang-undang nomor 18 tahun 2008, PP nomor 81 tahun 2012, dan Permendagri nomor 33 tahun 2010. Salah satu isinya adalah setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga WAJIB mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan (undang-undang nomor 18 tahun 2008 pasal 12 ayat 1). Sekali lagi. WAJIB.

Tujuan utamanya tentu saja agar masyarakat sadar untuk membuang sampah hanya pada tempatnya. Mungkin masyarakat sesungguhnya sudah sadar kok, untuk membuang sampah pada tempatnya. Mungkin, mereka cuma belum sadar, tempat mereka membuang sampah itu yang belum tepat. Mungkin jalan, lapangan, sungai, hutan, atau dimana pun sudah merupakan tempat sampah terdekat, tercepat, termudah bagi sebagian masyarakat. Namanya sampah ya dibuang. Asal tubuh mereka bersih, asal sampahnya tidak ada lagi di rumah mereka, artinya sampah sudah hilang terbuang. Titik. Karena itu di pasal lain tertulis setiap orang berhak memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan (undang-undang nomor 18 tahun 2008 pasal 11 ayat 1e).

Sebelum kita bicara produk sampah, penanggulangan sampah dan menentukan tempat yang ‘tepat’ untuk membuang sampah, mari terlebih dahulu kita bicara sumber-sumber sampah. Mari kita bicara dari hulu ke hilir.

Apa sih sampah bagi kita?

Sebenernya, apa saja yang bisa membuat suatu benda atau barang mendapat predikat sampah. Sederhananya, ketika kita sudah tidak lagi membutuhkan barang tersebut.

Tapi, sudahkah kita cukup mengeksploitasi, mengeksplorasi dan mendayagunakan suatu barang hingga akhirnya barang-barang tersebut benar-benar menjadi sampah. Atau kadang, kita hanya malas dan bosan menggunakan atau memakai barang tertentu. Jadi, beri saja barang-barang itu status sampah. Atau justru malah, barangnya memang cuma sekali pakai. Selesai pakai, langsung jadi sampah. Atau yang terakhir, barang-barangnya sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kita, meskipun secara guna dan fungsi masih bagus.

Nah, setelah ketahuan apa saja sampah-sampah kita, yuk kita mulai berpikir lebih maju. Sebelum kita menjadi penghasil sampah mari kita mulai dulu untuk mengurangi sampah. Tapi bagaimana caranya?

Bagaimana cara mengurangi sampah?

Mari mulai dengan pemikiran sederhana. Lihat kembali sampah-sampah kita. Apa saja penyumbang terbesar sampah kita? Bisakah penyumbang besar itu dikurangi? Jawabannya jelas. Pasti bisa. Beranjak ke tahap selanjutnya. Mau atau tidak, kita sebagai subjek penghasil mau mengurangi sampah pribadi. Jawabannya, Harus mau. Sekarang kita bahas caranya.

  1.        Replace & Reuse. Yuk tengok tempat sampah masing-masing. Korek-korek apa isinya. Kebanyakan isi tempat sampah kita ngga lain adalah barang hasil pakai. Misalnya tissue (yang lagi pilek atau flu boleh ngacung), bungkus kemasan makanan-minuman-toiletries, disposable diaper (ibu-ibu muda boleh ngaku), pembalut, sampah dapur, dll dsb. Mau tidak mau, setelah menggunakan barang-barang tersebut, pasti langsung dibuang. Nah, kenapa tidak kita ganti saja barang-barang di atas dengan barang-barang yang bisa digunakan lagi. Misalnya, ganti tissue dengan handuk atau saputangan. Ganti disposable diaper dengan cloth diaper. Ganti pembalut sekali pakai dengan washable menspad. Beberapa ide replacing, juga saya tuangkan di artikel ini. Ayo kreatif mencari pengganti barang sekali pakai dengan barang yang bisa digunakan berulang kali.
  2.       Refuse or Recycle. Tolak semua pemberian brosur-brosur yang tidak perlu. Alihkan semua tagihan dan informasi rekening ke system paperless. Lewat e-mail misalnya. Atau, bila kita terlanjur menjadi konsumen kertas, daur ulang kertas-kertas yang ada. Berdayakan dengan akal kita. Kertas-kertas tagihan, nota, brosur, Koran bekas, majalah bisa menjadi barang kerajinan lho. Kadang, kita cuma kurang meksplorasi suatu barang. Jadi, ayo lebih kreatif.
  3.       Give 0r Sell 0r Barter. Ada beberapa dari kita yang suka ‘menyimpan sampah’ karena merasa barang itu masih bagus, padahal sudah tidak dibutuhkan lagi. Tengok saja lemari dan gudang. Ada sampah apa di sana. Lagi. Barang hasil pakai. Contohnya, pakaian bekas, sepatu rusak, tas rusak, mainan rusak, furniture rusak, printilan aksesoris, majalah bekas, maket kuliah, baju-baju anak, box bayi, dan lain sebagainya. Tetap saja. Barang yang sudah tidak memiliki guna bagi kita, namanya tetap sampah.  But sometimes, one people’s junk may be a treasure to others. Kalau memang dirasa ‘sampah’ itu masih berharga dan bermanfaat, kita bisa berikan, jual atau bahkan barter dengan sampah berharga orang lain. Gudang, sudut rumah, pojok ruangan bukan tempat yang tepat untuk menempatkan sampah dalam bentuk apapun. Bagaimanapun, sampah itu harus dibuang ke tempat sampah yang tepat.

Dimana tempat sampah yang tepat?

Tempat sampah tidak selalu berarti benda berupa tong tempat pembuangan terakhir. Manusia seperti kita juga bisa menjadi tempat sampah yang tepat. Yang bisa memanfaatkan lagi sampah-sampah kita atau bahkan mengubah fungsi sampah menjadi barang berharga. Siapa saja ‘tempat sampah’ ajaib itu.

  1.      Creator. Banyak orang yang punya waktu dan kreativitas untuk memanfaatkan atau bahkan menghasilkan barang-barang dari sampah kita. Rata-rata berprofesi pengusaha, ilmuwan sampai seniman. Mereka bisa memanfaatkan sampah plastik hingga sampah dapur. Mereka mampu mengubah bekas bungkus kemasan, koran bekas, hingga kulit telur menjadi tas, rak buku hingga kaligrafi. Orang-orang seperti ini tersebar dimana-mana. Sampah-sampah kita bisa jadi kebutuhan mereka. Daripada berakhir di tong sampah, ada baiknya kita mengumpulkan sampah kita atau sekalian mengajak para tetangga untuk jadi supplier tetap bahan baku produk mereka. Win-win solution kan. Sampah di lingkungan kita berkurang, para kreator tidak kebingungan mencari bahan baku untuk produk mereka.
  2.       Common people. Ya, orang-orang biasa seperti kita juga bisa menjadi tempat sampah yang tepat. Bisa jadi mereka membutuhkan barang-barang bekas kita pakai atau sebaliknya. Sebut saja box bayi, tas, lemari, dan lain sebagainya. Asal selama pemakaian, kita rajin merawat dengan baik, kita bisa menjual, memberikan atau bahkan barter dengan barang-barang mereka.
  3.     Pengepul dan Pemulung. Bila kita tidak bisa menemukan dua kelompok di atas, barang-barang bekas pakai bisa kita berikan atau jual pada pengepul, pemulung atau tukang loak. Sampah bagi kita bisa menjadi penghasil rupiah bagi mereka.

Namun tak jarang, beberapa golongan sampah memang tidak bisa lagi diberdayakan. Kita pun mau tidak mau harus membuang sampah ke tempat pembuangan akhir. Tapi bukan berarti kita tinggal buang saja ke tong sampah. Setidaknya ada hal terakhir yang bisa kita lakukan. Memilah sampah. Mulai dengan memisahkan menjadi dua jenis. Sampah organik dan sampah non-organik. Dengan memisahkan sampah, kita juga membantu :

Mengurangi timbunan sampah & mencegah pencemaran
Sampah itu mempunyai tingkat degradasi atau waktu hancur yang berbeda.  Sampah organik seperti daun, kertas, kulit buah hanya butuh waktu beberapa jam hingga beberapa hari untuk menjadi busuk. Sedangkan sampah non organik seperti logam, plastik, kaca butuh waktu ratusan tahun. Jika semua sampah dijadikan satu, maka sampah-sampah yang organik saja yang akan terurai, sedangkan sampah non organik akan tetap pada wujudnya hingga ratusan tahun. Pencampuran sampah hanya memberi efek penumpukan dan penimbunan sampah. Padahal, pembusukan pada sampah organik yang bercampur sampah non-organik bisa menimbulkan penyebaran penyakit dan pencemaran. Memilah sampah bisa menghindarkan dan mencegah risiko tersebut. Apalagi bila terdapat sampah-sampah tertentu seperti botol pembasmi serangga, baterai, obat-obatan, dll. Sampah jenis ini butuh penanganan khusus. Dengan memisahkan sampah, kita bisa menghindari kemungkinan pencemaran bahan-bahan beracun atau berbahaya.

Ayo kita tanamkan kepedulian terhadap masalah sampah, mulai dari diri sendiri, dari hal sederhana, dan dari sekarang. Sedikit aksi dari kita, berdampak banyak bagi lingkungan. Kenali sampah kita, buang sampah pada tempat yang tepat, wujudkan lingkungan bersih dan sehat.

cheers,

Indah-momAmore

Advertisements