Tags

, , ,

Assalamualaikum…

Hai Mama Papa… Bagaimana libur lebarannya…?? Semoga meninggalkan kesan menyenangkan dan membahagiakan. Semoga juga bisa menjadi ‘charge’ kita untuk kembali berproduksi dan menghadapi berbagai rutinitas mencapai tujuan. Amin.

Lebaran selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi umat muslim. Tak terkecuali saya dan keluarga. Momen saat keluarga berkumpul dan saling memaafkan. Momen saat aura baru dan tekat menjadi manusia baru yang lebih baik dimulai setiap tahunnya.

Tahun 2010 menjadi momen lebaran paling bahagia bagi saya. Setidaknya itulah yang awalnya saya pikirkan. Yang ingin saya rasakan. Saya baru menikah dua bulan sebelumnya, dan saat itu saya sedang mengandung. Kepulangan saya ke kampung halaman, menjadi kali pertama setelah dua lebaran sebelumnya saya harus bekerja. Ya, bekerja. Kali ini, saya yang mendapat kesempatan mudik.

Saya tiba di rumah orang tua tepat di malam takbiran. Saya dan suami segera istirahat di kamar. Ya, kami cukup lelah, karena harus berhadapan dengan flek yang saya alami selama hamil. Esok paginya, kami berdua absen sholat Ied. Sedih rasanya berlebaran tanpa sholat Ied. Tapi, kesedihan saya ternyata tak sampai situ. Malamnya saya pendarahan. Terus menerus hingga hari kedua lebaran. Saya bingung dan panik. Saya meminta suami untuk membacakan ayat-ayat suci. Pendarahan bukannya berhenti. Tapi mengucur makin deras.

Esoknya, kami bergegas ke rumah sakit. Dokter kandungan datang hampir dua jam kemudian. Setelah melakukan USG, dia hanya bertanya pada saya, “Kamu yakin lagi hamil? Sudah testpack?”. Saya syok mendengar pertanyaannya. “Saya tidak melihat apa-apa. Coba nanti dicek lagi sama dokter lain yah. Saya masih ada urusan.” Suami saya terdiam saking marahnya. Saya langsung dibawa pulang. Percuma datang ke rumah sakit. Suami saya langsung menuju bandara mencari tiket kembali ke Jakarta.

Setibanya di Jakarta, kami langsung menuju RSIA tempat saya biasa kontrol kandungan. Setelah USG transvaginal, dokter kandungan menyatakan bahwa saya keguguran dan harus dikuret. Lebih cepat lebih baik. Tak lama berpikir, saya dan suami pun mengiyakan. Malamnya saya dikuret.

Lebaran, saat idealnya keluarga berkumpul, saya harus merelakan calon buah hati kami. Apakah saya dan suami sedih. Tidak. Sama sekali tidak. Kami ikhlas. Kami justru sangat bersyukur. Kami yakin, Allah punya alasan, kenapa lebaran kali ini saya harus keguguran. Kami hanya perlu bersabar. Kami yakin bahwa Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah.

Kanaka Olivia

Benar adanya. Keindahan itu datang tepat di malam takbiran 2011. Saya melahirkan bayi perempuan yang sehat dan cantik. Sekali lagi, saya tidak ikut sholat ied keesokan harinya. Tapi saya ikhlas. Saya bersyukur dengan anugrah yang Allah berikan pada kami. Terbukti bahwa buah kesabaran sungguh nikmat adanya.

Dan terbukti bahwa lebaran sungguh adalah momen dimana manusia baru terlahir kembali dengan pembelajaran untuk menjadi lebih baik di kemudian hari. InsyaAllah.

Semoga menginspirasi yah…

Oia, artikel ini sekaligus dalam rangka memeriahkan semangat Ramadhan bersama www.burufly.com. So please kindly visit the site and vote, if you like this article 🙂

 

cheers,

indah

Advertisements