Tags

, , ,

Mama Papa sering ngga sih, bilang begitu saat menyuapi anak. Apalagi saat anak uda mulai males makan. Pakai aja teknik ‘satu suap lagi’. Dan setelah anak buka mulut, nyuapinnya dilanjutin dengan suapan kedua ketiga keempat, dan seterusnya dengan dalih, “mumpung anaknya masih mau.”. Sampai akhirnya si anak bisa protes, “katanya satu lagi. kok diterusin nyuapinnya.”. Kalau anak sudah bisa bilang begitu, orang tua mau bilang apa?

Banyak orang tua berpikir, ah sama anak ini. Bujuk dikit gapapa lah. Supaya mau buka mulut, mau makan. Padahal, sadar atau tidak, orang tua telah menanamkan kebiasaan bohong pada anak. Kita adalah kiblat perilaku anak. Sosok teladan pertama dan terdekat bagi anak. Apa yang biasa kita lakukan, akan dilihat, dipelajari dan kemudian ditirukan oleh anak. Bila kita menghalalkan kebohongan, sekecil apapun, maka yang tertanam di benak anak adalah bohong itu boleh dan yang paling buruk, mereka bisa saja menganggap bohong itu perlu. Untuk hal esensial seperti makan saja, orang tua memerlukan kebohongan, apalagi hal lain. Jadi, jangan salahkan anak bila kelak mereka sering berbohong pada kita dan pada orang-orang di luar sana. Karena kita lah yang sedari awal mengajarkan kebohongan.

be honest and tell the truth

So smart parents, tanamkan kebiasaan jujur pada anak. Kalau kita bilang, “yuk, makannya satu suap lagi.” Maka tepatilah. Kuatkan kredibilitas kita sebagai orang tua yang dapat dipercaya. Karena, saat kita menjadi orang tua yang jujur dan dapat dipercaya bagi anak, mereka akan otomatis menghormati sekaligus menyayangi kita. Anak adalah harta tak ternilai. Pintu gerbang surga bagi orang tua. Didiklah dengan segala kebaikan.

honesty is the best policy.

cheers,
Indah – momAmore

Advertisements