Tags

, , ,

Sejujurnya, saya adalah salah satu orang yang menganggap remeh general medical check up. Saya merasa masih muda (dibawah 30 tahun masih boleh donk ya, dibilang muda :p ) dan sudah menjalani hidup sehat. Saya tidak merokok, suami juga tidak merokok, tidur cukup, seneng-seneng cukup, lumayan inget olahraga, makanan (saya rasa) cukup sehat, walau suka juga sih jajan sana sini. Saya juga tidak merasakan adanya keluhan berarti di tubuh. Dan for your information aja nih, BMI (body mass indeks) saya ideal. Yang artinya, tinggi dan berat badan pas. Ngga gemuk dan ngga kurus. Jadi dengan sangat percaya diri, saya merasa saya sehat.

Berarti seharusnya saya relatif aman lah dari risiko penyakit jenis apapun. Jadi buat apa lagi medical cek up. Apalagi, medical cek up sama sekali ngga murah. Saya cek sana sini, paket general check up  yang uda diskon aja harganya masih lebih mahal dari paket sembako plus baju lebaran. Itungannya mak-mak banget ya. Makin komplit lah alasan saya untuk tidak menjalani medical check up.

Toh saya masih muda, sehat, ngga ada keluhan kesehatan plus mahal pula kalau harus general check up.

Saya ngga sendiri lhoh. Ketika saya tanya ke grup sesama ibu-ibu, mereka mengatakan hal yang serupa. Ogah medical check up kalau harus bayar sendiri.

berikut cuplikan jawaban beberapa teman saat saya tanyakan, mau ngga melakukan general medical check up lengkap*) dengan biaya IDR 1.250.000

“Belum perlu kali ya, kalo ga ada keluhan mah.”  Ibu A

“Mending buat beli treadmill” Mama B

“kalau 1-10, aku kasih poin 2. alasannya mahal. masih banyak kebutuhan yg lain. walau sebenernya sih pingin.” Bunda C

“aku tipe-tipe yang males. mungkin nanti kalau udah 30an ke atas diprioritasin.” Mom D

“aku medcheck teratur karena dibayarin kantor. rugi kalau ngga, ya kan. seperti benefit lain kaya kacamata, bersihin karang gigi, manfaatkan! kl disuruh bayar sendiri… nehi. mahal.” Ibu E

See, ternyata banyak lhoh ibu-ibu dan mama-mama yang menganggap bahwa general medical check up itu ngga terlalu penting. Namun, setelah berpikir panjang, akhirnya saya menemukan cukup banyak alasan yang sangat kuat kenapa saya harus memaksakan diri dan suami untuk menyediakan waktu dan dana melakukan medical check up.

  1. Saya ingin memastikan, bahwa saya benar-benar sehat.
  2. Banyak silent killer desease yang ngga menunjukkan gejala atau keluhan berarti di masa-masa awal. Sebut saja kanker, diabetes, jantung, dsb. Nah, saya dan suami sama-sama memiliki keturunan diabetes. Berarti kami berdua memiliki risiko diabetes. Maka kami harus mengkontrol dan memastikan bahwa gula darah kami dalam batas normal.
  3. Kami memiliki anak-anak yang masih sangat kecil dan masih sangat bergantung pada orang tuanya. Kami harus benar-benar sehat dan kuat untuk menjaga, mendidik, membiayai mereka sampai mereka benar-benar mandiri.
  4. Saya dan suami masih berstatus pekerja aktif. Kami baru mendapat uang kalau kami bekerja. Maka, kami harus sehat baru bisa bekerja dengan baik.

Dan akhirnya, hari untuk medical check up pun tiba. Seketika uang 2.5juta rupiah harus diikhlaskan terbang melayang. Saya dan suami menjalani satu demi satu tes fisik. Beberapa hari berselang, hasil medical check up pun kami terima yang langsung kami konsultasikan dengan dokter. Hasilnya cukup membuat saya shock.

selfie dulu selagi medical check up

Yups, bisa ditebak. Kami tidak sesehat itu. Beberapa poin, menunjukkan gejala abnormal. Beruntungnya tidak parah sih. Baru gejala awal yang ‘hanya’ butuh observasi dan tidak harus melakukan pengobatan khusus. Kami hanya dianjurkan melakukan diet, lebih rajin olahraga, dan menjaga asupan anak-anak kami (terkait kami membawa darah gula).

Butuh waktu semalaman bagi saya untuk bisa menerima kenyataan bahwa saya tidak benar-benar sehat, mengingat saya tidak memiliki keluhan berarti selama ini. Tapi di sisi lain, saya teramat bersyukur bisa mengetahui segala gejala itu sejak sangat dini. Kini, saya memiliki motivasi sangat kuat untuk melakukan salam perpisahan dengan fastfood, soda, cendol, dkk dan lebih sering ngedate bareng sepatu lari dan swimsuit.

laporan hasil medical check up

Seumur hidup, baru kali ini saya sangat ingin menyandang status sehat (dan seksi dan cantik :p). Saya ingin sehat. Saya ingin lebih disiplin menjalankan pola hidup sehat. Menularkan dan menurunkan pola hidup sehat. Memiliki keturunan yang sehat.

Tahun depan, tanpa ragu, pasti saya akan melakukan medical check up lagi. Penting bagi saya untuk tahu pasti kondisi tubuh sesungguhnya, sebagai kontrol pola hidup yang benar dan deteksi dini bila ada bibit penyakit tanpa gejala/keluhan.  Soal biaya, harus saya akui, medical check up memang mahal dan harus dipersiapkan. Tapi toh, hanya setahun sekali. Dan lagi, biaya berobat bila sudah terlanjur sakit parah, jauh lebih mahal. Apalagi kalau ngga punya asuransi kesehatan. Tahun depan, saya tak mau lagi ada nilai merah dalam laporan kesehatan. Saya ingin dengan lantang dan pasti berkata, Saya SEHAT.

salam sehat

indah

*) List general medical check up :

  • Pemeriksaan fisik lengkap (oleh dokter umum)
  • Pemeriksaan dan konsultasi gigi (oleh dokter gigi)
  • Pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata
  • Pemeriksaan THT oleh dokter spesialis THT
  • Antropometri (tinggi badan, berat badan, nadi & temperatur)
  • Audiometri
  • EKG (elektro kardio grafi)
  • Treadmill test (dengan pengawasan dokter)
  • Rontgen foto thorax (dada)
  • Spirometri
  • USG Full Abdomen
  • Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan darah lengkap, kimia darah, fungsi hati, (Sgot & SGpt), fungsi ginjal (ureum, kreatinin & asam urat), fungsi lemak (kolesterol total, HDL, LDL, & Trigliserid)
  • Gula darah puasa & 2 jam puasa
  • Urin lengkap
  • Feces lengkap
  • Tes hepatitis B & C (HbsAg, & HVC, & Anti HBS)
  • HIV Test
  • Papsmear (wanita)
  • PSA total (pria)
Advertisements