Tags

, , , , , , , , , , ,

Saya pernah berdiskusi bersama suami, mau seperti apa masa pensiun kami kelak. Lalu, kami sama-sama berkhayal ingin berkeliling dunia berdua, tinggal di suatu desa dengan halaman yang luas dimana suami bisa beternak kambing atau domba dan saya bisa berkebun sayur organik. Kemudian hasil panen ternak dan kebun menjadi pasokan bagi restoran yang kami kelola bersama.

Kami juga sepakat, bahwa masing-masing akan tetap melakukan aktivitas produktif dan sosial di usia tua nanti. Agar otak tetap terasah dan sosialisasi tetap terjaga. Kelak, saya ingin tetap melakukan aktivitas trading saham serta menjadi konselor laktasi dan suami juga tetap ingin mengawasi bisnisnya di bidang media audio visual. Sama seperti sekarang. Usia boleh renta, tapi kami ingin tetap produktif, menjalani hidup aktif dan menyenangkan seperti saat muda. Serta sesekali menjalani romantisme dengan pergi ke bioskop atau makan malam berdua. Indah ya.

Namun ada satu hal yang kami tidak inginkan di masa pensiun. Kami tidak ingin memikirkan soal uang. Benar, kami ingin tetap produktif. Tapi kami tidak mau seperti sekarang, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kelak kami ingin bekerja karena hobi. Karena kami senang melakukannya. Kami juga tidak mau memikirkan dari mana kami dapat uang ketika ingin keliling dunia, makan malam romantis, nonton film di bioskop dan lain sebagainya.

Terdengar egois mungkin. Tapi itulah mimpi kami untuk masa pensiun kelak. Berani bermimpi, tentu harus berani beraksi ya. Kami tidak ingin, mimpi yang kami rajut bersama hanya berakhir dalam bayang-bayang yang pudar. Kami pun mulai berhitung untuk mulai merencanakan dan menentukan langkah apa saja yang harus ambil untuk mewujudkan mimpi kami.

tua bersama, bahagia dan sejahtera

tua bersama, bahagia dan sejahtera. foto dari sini.

Tentu saja mimpi yang besar butuh langkah yang panjang. Kami bersyukur, usia kami masih relatif muda. Waktu untuk melangkah dan belajar masih relatif panjang. Karena itu, kami meneliti berbagai instrument investasi yang cocok, baik dari segi imbal balik maupun risiko untuk mewujudkan mimpi masa pensiun. Akhirnya, kami memilih 3 jenis investasi berikut :

  1. Investasi properti, apalagi di Indonesia, hampir selalu menjanjikan keuntungan sekaligus imbal yang berlipat-lipat. Memang butuh modal yang tidak sedikit untuk berinvestasi di properti. Tapi, membeli property bisa dicicil. Bahkan, sebelum cicilan lunas, nilai properti rata-rata sudah naik banyak. Apalagi bila lokasinya strategis. Belum lagi kalau kita memberdayakan property kita, seperti menyewakan rumah/apartemen atau berkebun di atas tanah. Ada bonus bulanan/tahunan yang bisa kita nikmati.
  2. Pasar modal. Kami selalu ‘menabung’ dana pensiun setidaknya 5% setiap bulannya di reksadana saham. Karena ada managemen investasi yang menggerakkan dana kami di pasar saham. Untuk diferensiasi, saya juga membelanjakan sendiri sebagian ‘dana nganggur’ kami di pasar saham. Pasar saham di Indonesia sangat menjanjikan. Banyak saham-saham potensial yang terus bertumbuh. Dengan aktif di pasar modal, saya bisa mengambil keuntungan dari pertumbuhan nilai saham, sekaligus menjadi investor yang turut menguatkan perekonomian Indonesia. Semakin banyak investor lokal, tentu semakin kuat akar perekonomian kita, sehingga tidak perlu terlalu bergantung pada aksi jual-beli investor asing yang hingga kini cukup berpengaruh pada nilai saham-saham dalam negeri. Jika reksadana dan saham yang kita pilih terus bertumbuh, maka kelak saat pensiun, harganya tentu akan berlipat-lipat. Sebagai bonus, kami suka menjual saham saat harganya sedang tinggi lalu, membelinya kembali saat harganya turun. Yang paling menyenangkan, proses dan prosedur berdagang saham sangat sederhana, mudah serta tidak membutuhkan modal besar. Jadi tidak banyak menyita waktu, uang dan tenaga.
  3. Emas. Agak berbeda dengan kebanyakan pendapat para pakar investasi yang menyarankan untuk mengkoleksi emas batangan murni, saya lebih suka menyimpan emas perhiasan. Ya, saya tahu nilai emas perhiasan masih di bawah emas batangan. Alasan saya menyukai emas perhiasan sebenarnya personal dan subjektif. Saya wanita. Saya suka keindahan. Kebetulan saya tidak terlalu suka belanja sepatu, tas, baju, mobil, atau gadget. Tapi kalau diajak belanja perhiasan emas, saya bersemangat sekali. Apalagi bila memikirkan kelak nilainya bisa saja naik. Paling tidak, harganya tidak akan tergerus sebanyak barang-barang yang saya sebutkan di atas. Perawatan dan penyimpanannya pun relative mudah. Cukup dipakai atau disimpan di tempat khusus. Beberapa bulan sekali dicuci dan perhiasan pun berkilau lagi.

Selain berinvestasi untuk hidup di hari tua, ada satu lagi yang perlu dipersiapkan, kesehatan pensiun. Bukan rahasia, saat usia menua kebugaran tubuh juga ikut mengendur. Biasakan untuk olahraga dan jaga makanan mulai sekarang, agar kita bisa menikmati indahnya masa pensiun sepenuhnya. Jangan lupa untuk cek kesehatan secara teratur. Terakhir, sisihkan dana untuk membeli asuransi kesehatan di perusahaan asuransi terpercaya seperti Sun Life dan menyiapkan dana kesehatan pensiun tersendiri. Ini penting, karena dana perawatan saat kita sakit atau kecelakaan tidaklah kecil. Jangan sampai simpanan untuk mewujudkan mimpi indah di masa pensiun sirna karena terpakai membiayai perawatan penyakit atau kecelakaan.

Nah, itu dia langkah-langkah investasi dan antisipasi untuk mewujudkan masa pensiun sejahtera dan romantis ala kami. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah anda menentukan seperti apa masa pensiun yang Anda kehendaki kelak? Sudahkah Anda merencanakan atau bahkan mengambil langkah untuk mulai mewujudkan masa pensiun impian Anda? Ceritakan juga yuk, dan ikuti Sun Anugerah Caraka, Kompetisi Menulis Blog 2014. Lihat informasi selengkapnya di sini ya.

Selamat berinvestasi.

Advertisements