Tags

, , , , , ,

Kesulitan makan pada anak menjadi isu yang tak pernah habis dibahas. Kebanyakan identik dengan keluhan orang tua yang merasa anaknya sering menolak makan.

Memang benar, anak yang sehat adalah anak yang tumbuh kembangnya baik. Anak dengan tumbuh kembang baik ditandai dengan berat badan dan fisik yang terus meningkat, serta kepandaian, kemampuan dan ketangkasan yang terus berkembang, sesuai usia.

Tentunya, menjadi anak dengan tumbuh kembang optimal butuh asupan gizi dan nutrisi yang tepat dan baik. Tapi bagaimana gizi anak bisa tercukupi bila mereka sering menolak makanan yang kita sajikan.

4-up on 2015-05-26 at 18.03 #4 4-up on 2015-05-26 at 18.03 #3

4-up on 2015-05-26 at 18.03 #24-up on 2015-05-26 at 18.03

_Gaya Kimi saat Susah Makan_

Problem Makan

Sering kali perhatian kita hanya tertuju pada anak sebagai subjek penentu berhasil tidaknya makanan masuk ke mulut. Sebagai contoh:

  1. Anak hanya mau makan makanan tertentu (picky eater).
  2. Anak menolak makan dan lebih memilih bermain.
  3. Anak menyimpan makanan di mulut dalam waktu lama.
  4. Anak hanya mau makan bila perhatiannya dialihkan.
  5. Anak suka melepeh makanan.
  6. Anak-anak makan terlalu sedikit, dan beragam problem lainnya.

Ternyata kadang problem makan pada anak seperti yang telah saya sebut di atas hanyalah persepsi orang tua yang kurang tepat. Kadang bukanlah anak yang pilih-pilih makan, namun orang tua yang menginginkan anak makan makanan tertentu, yang kurang pas dengan selera mereka. Baik secara rasa atau tampilan. Kadang, bukan anak yang makannya sedikit, tapi mungkin orang tua yang terlalu memaksakan jumlah porsi tertentu pada anak, yang bisa jadi terlalu banyak.

Kadang pula, orang tua menciptakan suasana makan yang kurang menyenangkan, seperti tekanan orang tua agar anak mau makan, yang tak jarang berujung pada pemaksaan. Atau suasana hati ibu yang kurang bahagia dan gelisah yang terbawa ke waktu makan anak. Bahkan bisa jadi kondisi meja makan yang kurang bersih sehingga anak enggan makan.

Pertengahan Mei 2015 lalu, saya berkesempatan mengikuti Bandung-Parenting club yang diadakan mothercare & ELC dan didukung oleh The Urban Mama. Acara ini membahas lebih dalam tentang penyebab anak susah makan dan solusinya, bersama Dr Dwi Prasetyo, dr., Sp.A(K), M.Kes sebagai narasumber. Dokter Dwi menyebutkan bahwa orang tua perlu mencari dan mengenali akar masalah makan, baru kemudian mencari pendekatan yang paling sesuai untuk masalah yang dihadapi.

Saat makan, anak-anak tidak saja berhadapan dengan perbedaan arti kenyang-lapar dan sensasi fisiknya, tapi juga emosi (nyaman, kasih sayang, kesal, frustrasi) yang menyertainya. Orang tua tentu harus paham dengan apa yang anak-anak hadapi, serta memberi respon yang tepat.

Namun pada intinya, asal perkembangan dan pertumbuhan anak ideal sesuai usia, maka drama makanan susah masuk tidak dapat digolongkan dalam masalah kesulitan makan pada anak.

Kiat dan Cara Pemberian Makan

Beberapa kiat dan solusi umum yang bisa dilakukan orang tua untuk mensiasati anak susah makan:

  1. Beri jumlah makanan secara bertahap. Sedikit-sedikit tapi sering. Baca batas minimal makanan yang mampu anak-anak habiskan. Saat mereka sudah mulai enggan makan, jangan dipaksakan. Lebih baik tawarkan lagi snack ringan pada satu atau dua jam kemudian.
  2. Buatlah suasana makan yang menyenangkan. Mulai dari orang tua, sesusah apa pun waktu memberi makan anak, jangan bosan untuk menjalani sesi makan dengan wajah ceria, senyum mengembang dan semangat positif. Energi kita akan menular pada anak. Bila perlu, gunakan peralatan makan yang atraktif agar si kecil lebih semangat makan.
  3. Menghidangkan menu makanan yang bervariasi. Ketika anak kita sukses menyantap satu menu makanan, bukan berarti kita terus memberinya satu jenis makanan saja. Variasi makanan mutlak perlu, agar anak-anak mengenal banyak jenis rasa, bentuk dan cara makan. Menu makan bervariasi juga akan memancing rasa ingin tau anak untuk mengeksplorasi makanannya.
  4. Penampilan bentuk makanan yang menarik. Bahkan nafsu makan kita sendiri akan lebih meningkat bila disajikan sepiring makanan yang tertata cantik. Begitu pula anak-anak. Berikan sajian yang menarik bagi mereka, agar mereka bersemangat menyantap makanannya.

Suplemen Vitamin

Sulit makan berkepanjangan tentu dapat berkembang menjadi malnutrisi (kekurangan atau kelebihan gizi) atau ketidakseimbangan mineral. Tapi hal ini jarang terjadi, bila ternyata tumbuh kembang anak dinilai baik. Hal ini bisa dilihat orang tua dari pertumbuhan berat badan serta perkembangan pola tingkah laku dan kemampuan anak.

Namun bila anak susah makan karena memang dalam kondisi sakit atau kurang mineral tertentu (kurang zat besi, kurang yodium, dsb) tentu butuh suplemen vitamin/mineral tambahan. Hal ini perlu konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis anak, agar pemberiannya tepat dosis, sesuai tujuan, sesuai masalah.

Pemberian suplemen atas inisiatif sendiri tanpa konsultasi dengan dokter, apalagi hanya agar anak lebih lahap makan atau bahkan menggantikan asupan gizi makanan sangat tidak dianjurkan.

Simpulan dan Saran

  1. Timbang berat badan anak secara teratur dan berkala. Pastikan pertumbuhan anak ideal dan sesuai chart tumbuh kembang. Chart tumbuh kembang anak bisa diunduh di sini.
  2. Kenali akar masalah susah makan pada anak. Tidak mau makan, bukan berarti anak-anak memang memiliki problem makan, mungkin saja hanya ego orang tua yang mengharuskan anak mau menghabiskan segala yang disajikan.

Semoga bermanfaat, Mama

Advertisements