Tags

,

Sebenarnya, saya suka menabung. Hebat kan…:) Sayangnya, saya hanya rajin menabung secara konvensional lalu hasil tabungan yang sudah menggunung, saya belanjakan atau gunakan untuk bersenang-senang. Kalau tabungan tinggal sedikit ya nabung lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada dana cadangan, tidak ada dana untuk masa depan, dan tidak ada pikiran antisipatif, bagaimana bila terjadi hal-hal darurat dan mendesak yang membutuhkan uang dengan jumlah besar. Bisa-bisa malah berhutang. Belum kalau kreditnya pakai bunga. Bisa pusing keliling-keliling. 

Saya baru menyadari pentingnya dana darurat dan berinvestasi sejak berkeluarga dan memiliki anak. Terlambat sekali ya. Well, better late than never.

gambar dari sini

Mengumpulkan dana darurat merupakan PE ER yang cukup berat buat saya. Kenapa? Karena saya diharuskan menabung dengan target jumlah yang cukup banyak tapi sama sekali ngga boleh diambil. Kecuali dalam kondisi darurat tentunya. 

Kondisi darurat di sini adalah saat ada kebutuhan yang tak bisa disangka-sangka waktu dan jumlahnya. Karena tidak dapat diperkirakan waktu dan jumlahnya, maka harus ada dan sedia dari awal. Skalanya pun jadi penting dan prioritas. Dana darurat akan menjadi pertahanan terakhir saat kita benar-benar berada di masa sulit akibat kejadian tak terduga.

Tips menabung dana darurat

1. Tentukan target jumlah dana darurat mama. Jumlah dana darurat yang harus disiapkan setiap orang bervariasi. semakin banyak tanggungan dalam keluarga, semakin banyak pula dana darurat yang harus disiapkan. 

gambar dari sini

Saya sudah menikah dan memiliki dua anak. berarti target dana darurat saya sebesar 12kali biaya hidup bulanan. Wuhuuu… banyak bangeeett…

2. Tentukan tenggat waktu pengumpulan dana darurat. Ini darurat ya. Jadi sesegera mungkin dikumpulkan. Tapi karena jumlahnya banyak buat timeline yang rasional dan bertahap bagi mama dan keluarga. Misal, dalam satu tahun ke depan, dana darurat harus sudah terkumpul 60%. Tahun berikutnya 40% sisanya. Yang penting segera wujudkan paling tidak satu kali biaya hidup sebagai Dana Darurat.

3. Dana Darurat sifatnya First In Never Out. Ketika kita mendapat pemasukan, langsung alokasikan ke rekening untuk dana darurat. Kalau mama punya penghasilan rutin, lakukan setoran rutin pula. Atau bisa pakai sistem auto debt di bank. 

4. Buat rekening terpisah. Dana darurat harus ada di tempat terpisah dari instrumen keuangan untuk keperluan lain. Agar keberadaannya ‘aman’. Jadi, sediakan dulu satu rekening terpisah untuk menyimpan satu kali biaya hidup bulanan sebagai dana darurat pertama. 

5. Buat portofolio berlapis. Dana darurat sebaiknya tidak hanya disimpan dalam tabungan. Karena menggoda iman kita untuk memakainya. Jadi, buat semacam portofolio berlapis dengan menggunakan produk finansial berisiko rendah. Misalnya, setidaknya satu kali pengeluaran bulanan di tabungan supaya benar-benar likuid. sisanya bisa disimpan merata di deposito, reksadana pasar uang dan emas/logam mulia.

gambar dari sini

Bagaimana? Sudah siap mengumpulkan dana darurat?

Advertisements