Tags

, , , , , , , ,

Berhubung latar belakang pendidikan saya adalah arsitektur, saya senang sekali menuangkan ilmu merancang saya. Termasuk merancang isi apartemen. Kebetulan ketika menikah, suami saya memiliki dua unit apartemen yang masih kosong. Akhirnya setelah saya berhenti bekerja, saya mulai merancang dan mengisi apartemen tersebut.

Setelah selesai, ternyata suami saya enggan tinggal di apartemen. Terlalu sempit katanya. Mungkin karena terbiasa tinggal di landed house ya. Akhirnya kami pun sepakat menyewakan dua apartemen tersebut.

Awalnya bingung harus mulai dari mana. Bagaimana mencari penyewa, mau disewakan harga berapa, lalu bagaimana aturan antara pemilik dan penyewa, dan lain sebagainya. Tapi itu dua tahun lalu.

Seiring berjalannya waktu, setelah bertemu berbagai karakter penyewa, melalui berbagai macam suka duka dan drama, akhirnya kami pun mendapatkan ATURAN yang pas ala kami, yakni:

  • SURAT PERJANJIAN HITAM DI ATAS PUTIH. Bubuhkan materai dan tandatangan basah. Surat ini penting sebagai panduan bila terjadi konflik atau tuntutan antara penyewa dan pemilik. Isi surat ini mulai identitas kedua belah pihak, detail isi unit dan kondisinya bila perlu, detail masa sewa, detail harga sewa dan cara pembayaran, hak dan kewajiban pemilik dan penyewa, serta penyelesaian masalah bila terjadi masalah.
  • DETAIL DATA PRIBADI PENYEWA. Bagaimanapun, hubungan kita dan penyewa hanya sebatas bisnis. Sebaik atau serapuh apapun kelihatannya, penyewa hanya orang lain. Jadi tetaplah objektif. Minta data diri mereka selengkap mungkin. Tak hanya yang tertera di KTP, tetapi juga lokasi dan nomor telepon tempat mereka bekerja hingga kontak keluarga dan temannya. Kita tidak pernah tahu seperti apa sebenarnya mereka. Sehingga, bila terjadi sesuatu yang kurang berkenan, kita bisa melacak keberadaan mereka.
  • DEPOSIT. Minta deposit minimal sejumlah satu bulan sewa. Untuk menjamin bahwa penyewa bisa merawat barang-barang kita dengan baik.
  • SANKSI. Tegaskan bahwa ada sanksi bila penyewa melakukan pelanggaran dan tuliskan secara rinci di surat perjanjian. Misalnya menerapkan denda bila penyewa terlambat melakukan pembayaran sewa atau tagihan listrik, untuk memastikan penyewa membayar tepat waktu. Atau ancaman pemutusan kontrak atau pengambilan access card bila penyewa melakukan pidana.
  • TEGAS. Jangan terlalu baik memberi toleransi pada penyewa. Kita tidak ada hubungan apapun selain bisnis dengan mereka. Segera lakukan tindakan tegas bila penyewa melakukan pelanggaran perjanjian atau bahkan tindak kriminal/pidana.

Menyewakan properti juga tidak harus menggunakan jasa agen. Kita juga bisa berjuang sendiri. Meski tentunya butuh lebih banyak usaha. Sedikit tips sebagai pemilik agar properti kita banyak peminat, tanpa harus memakai jasa agen properti:

  • Tulis secara rinci fasilitas dan keunggulan properti kita. Misalnya, kalau sudah furnished, apa saja isinya, viewnya apa, menghadap kemana, dekat dengan apa. Cara pembayaran yang memudahkan juga bisa menjadi keunggulan. Misalnya sewa 6bulan bisa dicicil 2kali dan sebagainya. Tulis rinciannya baik di iklan maupun di surat perjanjian. Supaya pemilik dan penyewa sama-sama tahu apa yang didapat dan diberikan.
  • Foto cantik no filter. Foto setiap sudut menarik dari properti kita. Ambil low angle dan sebisa mungkin gunakan cahaya yang optimal namun alami. Jangan gunakan filter apapun, karena akan mempengaruhi warna asli. Sebagus apa pun filter, kalau hasilnya beda dengan aslinya, akan terasa palsu.
  • Sebarkan iklan. Luangkan waktu dan energi untuk menyebarkan iklan dimanapun yang aman dan terpercaya. Bisa lewat supermarket retail online atau media sosial. Pantau terus perkembangannya. Dan usahakan iklan kita ada di halaman muka atau jajaran awal.
  • Survey harga. Sebelum menyewakan properti, cari tahu dulu harga sewa pasaran unit kita. Sehingga saat menyewakan, kita bisa mematok harga. Bisa dengan bertanya ke penyewa lain atau ke agen properti. Sebagai catatan, jangan terlalu mahal karena akan susah laku, meskipun memiliki keunggulan dan fasilitas yang mumpuni. Jangan terlalu murah juga karena akan merusak pasar.
  • Objektif memilih penyewa. Kita sangat berhak memilah dan memilih penyewa. Kalau kita merasa kurang sreg dengan penyewa meski mereka mau menyewa tanpa nego, boleh saja ditolak. Dan jangan mudah percaya dengan penyewa model apapun. Sedikit cerita, saya pernah ditelepon calon penyewa yang konon akan menyewa 2tahun, tanpa nego, bahkan sudah langsung DP. Too good to be true. Benar saja, ternyata mereka berusaha menipu saya. Pernah juga ada single mom enam anak yang suka menunggak bayar sewa, dan berakhir kabur.

Semoga kiat-kiat dan cerita saya di atas bisa membantu memberi pencerahan bila ingin menyewakan properti. Intinya adalah tetap objektif dan optimis. Sampai sekarang saya masih aktif menyewakan properti. Dan saya masih terus mengevaluasi aturan-aturan menyewakan properti ala kami. Bisnis ini tidak mudah. Tapi cukup menguntungkan. Asal kita tekun dan disiplin.

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements