Tags

, , , ,

Saat kami belum memiliki momongan, suami mengajak saya menjenguk temannya yang baru saja melahirkan. Ketika itu suami dengan luwes menggendong dan bercanda sang bayi mungil. Saya kagum dan terpana. Saya yakin, kelak pria ini mampu menjadi ayah luar biasa. Penilaian yang prematur memang. Setidaknya menurut saya, keluwesan suami mengakrabkan diri dengan seorang bayi, memberi sinyal positif tentang jiwa kebapakan.

***

Tiga tahun kemudian, tepat saat malam takbiran, putri pertama kami lahir. Saya begitu bahagia mendapat kado lebaran yang sangat indah. Namun ada sebagian ragu di hati saya. Keraguan tentang akankah saya mampu menjadi ibu yang baik. Karena saya takut menyentuh bayi. Jangankan menggendong dan menimang, menyusuinya di pangkuan saja, saya gemetaran. Untunglah ada suami saya yang terus memberi keyakinan dan membangun percaya diri saya. Hingga akhirnya saya mampu menyusui dan berakrab ria dengan putri cantik kami.

***

Seminggu berselang, saatnya memandikan bayi. Kebetulan saya dan suami sama-sama manusia rantau. Kami terpisah ratusan kilometer dengan orang tua. Di satu sisi, kami bersyukur karena kami bebas memilih dan menerapkan cara membesarkan serta mendidik anak-anak. Tapi di sisi lain, kami lumayan bingung saat tidak ada orang terdekat yang membimbing kami saat galau. Termasuk ketika harus memandikan bayi.

Meski sudah pernah belajar cara memandikan bayi, tapi saat harus praktik sendiri di rumah, nyali ini ciut juga. Bagaimana kalau airnya terlalu dingin, atau bahkan terlalu panas. Bagaimana kali putri kami bergerak-gerak terus dan pegangan kami terlepas. Bagaimana kalau kurang bersih. Bagaimana kalau begini, kalau begitu dan seterusnya. Akhirnya, suami sayalah yang dengan gagah berani turun tangan memandikan putri kami. Sesi memandikan bayi pun sukses, lancar, bersih. Keberhasilan suami memandikan putri kami ternyata membuat adiksi. Tiap pagi, suami sayalah yang memandikan bayi kami. Seru katanya, bisa kecipak kecipuk sambil bersenda gurau tanpa banyak kata.

Kesuksesan suami membuat saya kagum sekaligus tersaingi. Saya pun berusaha dan belajar agar lancar memandikan putri kami. Meski lebih kaku dalam hal memandikan bayi, namun suami selalu memuji kemampuan saya. Pujiannyalah yang terus membangun rasa percaya diri saya. Tak hanya dalam hal memandikan bayi, tapi juga dalam peran sebagai ibu seutuhnya.

***

Bapak memandikan Kimi

Kini kami telah memiliki dua putri cantik. Untuk urusan memandikan anak, saya sudah sangat ahli. Anak pertama kami pun kini sudah bisa mandi sendiri, di usianya yang hampir empat tahun. Meski begitu tiap pagi, suami saya masih selalu memandikan putri bungsu kami yang kini berusia 22bulan. Mumpung masih kecil katanya.

Saya tak lagi merasa tersaingi sekarang. Yang ada hanya rasa syukur tak terhingga. Firasat saya dulu benar adanya. Suami saya begitu sayang pada anak-anak. Tak segan turun tangan menjaga dan merawat anak-anak kami. Semoga keakraban ayah-anak ini terus berlanjut hingga ujung usia.

Screen shot 2015-07-03 at 11.32.35 PM

Because Daddy will always be a daughter’s first ever love…

Advertisements