Tags

, , ,

Beberapa waktu lalu, saya mendengar tausyiah indah tentang arti Ramadhan. Awalnya saya pikir, arti ramadhan tidak jauh-jauh dari puasa atau menahan nafsu. Namun ternyata saya tak sepenuhnya benar. Menurut asal katanya, Ramadhan berarti panas yang membakar. Agak menakutkan ya. Tapi tunggu dulu, bukankah bila seorang muslim ikhlas berpuasa karena Allah, insyaAllah dosa-dosanya akan terbakar di bulan suci ini. MasyaAllah. Semoga kita termasuk salah satu diantara manusia-manusia yang dosa-dosanya terbakar habis di Ramadhan nan suci ini.

Bicara tentang pembakaran, kebetulan tepat di bulan Ramadhan ini usia pernikahan saya menginjak tahun kelima. Menjaga bara pernikahan agar tetap hangat ternyata tidak mudah, meski insyaAllah kami saling mencinta. Kadang butuh perjuangan untuk menyulut kobaran asmara, meski tak jarang hangat cinta itu terasa dengan sendirinya.

Resepsi pernikahan kami, lima tahun lalu

Saya teringat pada Ramadhan tahun lalu. Ketika itu saya meminta pada suami untuk selalu menjadi imam kami saat sholat. Sebelumnya suami memang sudah menjadi imam saat kami sholat berjamaah. Namun tak jarang, kami memilih untuk sholat sendiri-sendiri. Supaya lebih cepat, lebih praktis, ngga saling tunggu-tungguan. Apalagi dengan adanya anak-anak. Sholat sendiri-sendiri memungkinkan kami saling bagi tugas untuk menjaga anak-anak secara bergantian.

Namun akhirnya kami mencoba mulai sholat berjamaah. Dengan sholat berjamaah, setidaknya kami bisa bersama-sama menjalin kedekatan pada Allah. Sejak Ramadhan itulah, kami akhirnya selalu berusaha sholat berjamaah, kapanpun kami sedang bersama. Setelah sholat, selalu saya mencium tangannya dan dia mencium dahi saya, lalu kami berdoa bersama. Sederhana, indah dan insyaAllah berkah.

Bagaimana dengan anak-anak? Alhamdulillah selama kami sholat ternyata anak-anak bisa menikmati waktu bermain mereka. Meski memang, anak-anak tetap anak-anak. Ada saja tingkah mereka yang kadang menyela konsentrasi kami. Tapi sabar saja, toh tidak selamanya mereka bertingkah begini. Lagipula, dengan menjalankan sholat berjamaah di depan mereka, insyaAllah kelak anak-anak juga akan melakukan hal yang sama. Bukankah teladan lebih bermakna dari berjuta kata?!

Sholat berjamaah pula yang ternyata mampu menyingkat masa prahara di antara kami. Kalau dulu saat berantem, saya tahan ngambek berlama-lama pada suami. Sekarang, manalah bisa dengan jeda antara sholat yang cukup singkat. Malu sama Allah, kalau meninggalkan sholat berjamaah hanya karena enggan mencairkan amarah.

MasyaAllah, berkah Ramadhan tahun lalu ternyata masih terasa hingga kini dan insyaAllah seterusnya. Padahal, niat awalnya sederhana saja. Sholat berjamaah. Namun efeknya luar biasa berlimpah. Alhamdulillah.

Bagi saya, Ramadhan ibarat ujian kenaikan kelas atau tes kenaikan pangkat. Yang idealnya bermuara pada peningkatan kualitas. Tapi tentunya takkan ada perbaikan bila tak ada keikhlasan untuk berkorban dan belajar. Semoga kita termasuk di antara manusia yang mau dan mampu menjemput hidayah serta memenangkan berkah Allah.

Ya Allah, jadikanlah umur terbaik kami di penghujungnya. Jadikanlah amal terbaik kami di penutupnya. Dan jadikanlah hari-hari terbaik kami saat bertemu denganMu.

Itu tadi cerita Ramadhan saya, semoga bisa menjadi manfaat bagi yang membaca ya. Kisah saya ini juga sebagai bentuk partisipasi dalam IHB Blog Post Challenge Ramadhan. Kamu pasti juga punya cerita indah sendiri kan, saat Ramadhan. Yuk tulis kisahmu dan ikuti juga challenge dari indonesian-hijabblogger.com ini. Keterangan lebih lengkap bisa dibaca di sini ya. Siapa tahu bisa menambah berkah di bulan suci ini.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh… 🙂

Advertisements