Tags

, , ,

Seminggu sebelum Ramadhan tahun ini, saya mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan yang parah berdarah-darah sih, cuma telinga saya kemasukan air aja saat berenang. Saya pikir tak akan berbuntut panjang. Tapi sebulan setelahnya, pendengaran saya mulai agak terganggu.

Ketika saya periksakan ke dokter spesialis THT, telinga kanan saya diduga terkena tuli syaraf mendadak. Saya baru bisa mendengar intensitas suara / kenyaringan di atas 50 desibel. Padahal, manusia normal bisa mendengar intensitas suara pada ambang di bawah 25 desibel. Dokter yang memeriksa sampai gemetaran saat menjelaskan kondisi saya. Apalagi sebenarnya gendang telinga saya masih utuh.

Tentu saja saya sempat merasa sedih dan takut. Tapi saya bersyukur, Allah memberi manusia dua telinga. Karena artinya, saya masih bisa mendengar dengan jelas melalui telinga kiri saya yang alhamdulillah dalam kondisi sehat.

Hingga saat ini, telinga kanan saya masih dalam pengobatan. Setiap satu minggu, saya harus kontrol ke dokter untuk memeriksakan perkembangan daya dengar saya.

Karena salah satu telinga saya kurang berfungsi dengan baik, kini ketika sedang berbicara dengan orang, saya harus mencondongkan badan dan mendekatkan diri pada mereka. Saya harus memperhatikan setiap gestur dan nada bicara mereka. Agar saya yakin, bisa menangkap maksud mereka sepenuhnya tanpa ada yang terlewat. Alhamdulillah, justru dengan cara ini saya bisa mendengar dengan jauh lebih baik.

Kecelakaan itu ternyata membawa berkah bagi saya. Karena kini, saya mendengar dengan melibatkan tak hanya telinga, tetapi juga mata, hati, pikiran dan segenap perhatian saya. Yang akhirnya membuat saya berkembang menjadi pendengar yang lebih baik.

Saya jadi teringat QS Ibrahim ayat 7

Screen shot 2015-07-23 at 1.19.44 PM

Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azabku sangat pedih.”

picture candidly taken by Bapak

Sedikit cerita, saat rekreasi mudik kemarin, anak tertua saya tiba-tiba ngambek. Padahal, kami baru saja masuk ke dalam museum setelah mengantri cukup lama. Akhirnya saya mengajaknya ke salah satu sudut ruang yang cukup sepi. Saya berusaha mendengar apa yang meresahkannya. Bicara dari hati ke hati meski dengan buah hati saja kadang tidak mudah. Apalagi di tempat umum dengan kondisi indra pendengaran saya yang kurang baik. Putri saya kemudian menceritakan semua kegalauan yang dirasakannya, lalu kami bernegosiasi dan akhirnya menghasilkan kesepakatan bersama. Saya akui, proses diskusi kami cukup memakan waktu. Tapi alhamdulillah semua berakhir baik.

Ramadhan kali ini membawa saya untuk senantiasa berpikir positif, agar selalu bisa berkata, bertindak dan bersikap positif. Saat pikiran positif tertanam, yang ada hanya rasa syukur tak terkira atas berkah Allah yang begitu melimpah. Alih-alih memikirkan betapa malangnya diri ini mendapati kecelakaan yang berbuntut panjang, saya lebih suka menikmati keahlian “mendengar” saya yang semakin terasah. Alhamdulillah ya…

Rejeki itu multi dimensi
Tak harus terbilang materi
Nikmati yang kita miliki
Syukuri karunia Ilahi

Semoga kita termasuk golongan manusia-manusia yang sabar dan pandai bersyukur, ya…

Yuk, ceritakan juga pengalaman berkesan saat Ramadhan atau Idul Fitrimu, dan ikuti tantangan dari indonesian-hijabblogger.com. Siapa tahu, tulisanmu bisa menambah berkah dan menjadi pelajaran bagi yang membaca 🙂

Advertisements