Tags

, , , , , ,

Jujur saja, sudah lama saya tidak merasakan ketertarikan membaca buku. Malas saja rasanya harus meluangkan waktu untuk membaca. Saat itu saya merasa hidup saya sudah terlalu ribet dan sibuk. Padahal, kadang juga suka merasa, tau-tau kok waktu berlalu begitu saja. Saya sudah ngapain aja ya. Sebegini ribet dan rempongnya, sudah menghasilkan apa sih… And suddenly i feel empty (for a moment)… Tapi lalu kembali ke kerempongan tak berjejak lagi…

Suatu saat saya pergi ke toko buku. Sebenarnya tujuan utamanya saat itu juga bukan untuk mencari buku, tapi menghadiri sesi diskusi salah satu film Indonesia yang diangkat dari sebuah novel dan baru saja release. Kebetulan, saya merasa kurang nyambung dengan isi diskusinya. Alasannya jelas, karena saya tidak membaca novelnya.

Merasa sudah meluangkan waktu dan merepotkan suami serta anak-anak yang hari itu ikut mengantar, saya merasa bertanggung jawab. Akhirnya saya bilang pada suami untuk mentraktirnya buku baru. Supaya setidaknya, kami tidak pulang dengan tangan hampa.

Suami memilih mengambil buku Self Driving, Menjadi Driver atau Passenger yang ditulis oleh Rhenald Kasali (saya akan mengulasnya sendiri nanti), dan saya memilih buku Hidup Sederhana yang ditulis oleh Desi Anwar.

Alasan kami memilih dua buku itu sebenarnya cukup sederhana. Dua buku itu masuk dalam deretan best seller toko itu, dan kebetulan cocok dengan kondisi kami masing-masing. Suami yang sedang mengembangkan usahanya dan saya yang telah disebutkan di atas, suka rempong tanpa jejak.

Ulasan Buku Hidup Sederhana oleh Desi Anwar

Screen shot 2015-07-28 at 10.43.52 AM

Buku ini semacam diary singkat yang berisi penggalan-penggalan pengalaman disertai pemikiran seorang Desi Anwar. Juga gagasannya dalam memaknai berbagai kejadian dan/atau kebiasaan yang terkadang terlupakan oleh kita, namun ternyata bisa memberi inspirasi dan perenungan.

Dalam kata pengantar, Desi mengungkapkan bahwa tidak ada yang lebih ahli dilakukan manusia selain membuat segala sesuatu menjadi rumit. Buku ini mengajak kita untuk melihat sesuatu lebih sederhana namun bermakna sekaligus menikmati kesederhanaan itu sendiri.

Desi mengawali kisah-kisahnya mulai dari judul yang terasa ringan. Leyeh-leyeh, Berkebun, Menjadi kanak-kanak, Menyendiri. Hingga mengangkat topik yang lebih berat. Makan dengan Bijak, Kebebasan, Rasa Takut, Menggenggam Hari ini.

Keseluruhan cerita dalam buku ini disampaikan dengan bahasa yang kaya, tertata, cukup baku namun sangat mudah dimengerti, diikuti dan dipahami. Tak hanya cerita, Desi juga melampirkan banyak foto-foto hasil jepretannya dari seluruh penjuru dunia. Seakan berusaha menangkap momen kesederhanaan dalam kekayaan ragam dunia itu sendiri.

Setelah membaca satu bab dari buku ini, saya hampir selalu merasa,” o iya ya, hidup sebenarnya tak harus serumit ini.” atau,”benar juga ya, kenapa saya harus repot-repot begini begitu kalau bisa dibereskan dengan cara sesederhana ini.”. Buku ini menyadarkan saya bahwa, kadang kerumitan itu hanya ada dalam pikiran kita. Kenyataan kadang tidak serempong itu. Dan hanya dengan memberlakukan hidup sederhana, justru hidup terasa lebih mudah dan lebih bermakna.

Bacaan yang ringan, namun menyegarkan. Cocok dibaca kala senggang atau kapan pun butuh bacaan ringan namun berarti tanpa perlu banyak berpikir. Atau di saat membutuhkan wawasan baru tanpa perlu membebani otak dengan bahasan dan bahasa yang terlalu berat.

Buku setebal 288halaman ini dibanderol dengan harga IDR98K, dengan softcover berilustrasi sampul sesederhana judulnya namun se-catchy isinya. Terasa agak mahal ya, tapi tunggu sampai Anda membacanya. Anda akan lupa dengan harganya. Karena sungguh, buku ini sangat menarik.

Beberapa cuplikan kalimat favorit saya:
mungkin saya tak dapat mengontrol rentang usia saya, tetapi paling tidak saya dapat mengontrol kualitas hidup saya selagi saya masih hidup.
-Desi Anwar, Makan dengan Bijak, Hidup Sederhana-

Sebab bila Anda tahu cara menikmati kesendirian, Anda tak akan pernah merasa kesepian.
-Desi Anwar, Menyendiri, Hidup Sederhana-

Kunci kepuasan bukanlah keberlimpahan, melainkan kecukupan dan kesederhanaan. Anda tidak dapat memiliki segalanya, dan memang tidak perlu begitu. Karena di mana pula Anda hendak menyimpannya? Kecuali Anda ingin membuka supermarket!
-Desi Anwar, Keberlimpahan, Hidup Sederhana-

Menarik kan…?? Ayo baca bukunya dan nikmati isinya… 🙂

Advertisements