Tags

, , , , , , , , , , ,

Kurang dari satu bulan lalu, ketika menghadiri seminar tentang cara mengelola keuangan dengan bijak bersama SUNLIFE dan Safir Senduk, Saya dihadapkan dengan pertanyaan yang kurang lebih berbunyi:

“Siapa lebih boros, pria atau wanita?”

Hmm… Butuh agak lama untuk menentukan dengan tepat jawabannya. Saya berkaca pada kehidupan pribadi, membandingkan antara saya dan suami. Saya akui, sayalah yang lebih sering belanja. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, saya juga suka belanja barang-barang fashion dan makeup. Tapi, saya pandai menawar dan menangkap radar diskon lhoh. Jadi hampir bisa dipastikan, apa yang saya belanjakan sangat valuable on price.

Sedangkan suami saya, agak lebih jarang belanja. Tapi sekali belanja barang-barang koleksi action figure atau komik bisa langsung membuat jebol rekening. Tak hanya itu, kalau sudah menemukan barang yang sekiranya langka, suami saya suka langsung setuju dengan harganya. Jarang melakukan tawar menawar. Ya, paling minta free-ongkir. Hehe…

Tapi saya dan suami memiliki satu kesamaan. Kami sama-sama suka jajan. Suka makan di luar. Mungkin karena saya adalah ibu rumah tangga tanpa ART, saya suka menjadikan alasan ‘bosan di rumah’ untuk bisa makan di luar dengan dalih penyegaran. Suami yang seorang profesional juga sering mengajak saya pergi makan bila telah selesai mengerjakan proyeknya. Sebagai reward untuk kerja kerasnya, katanya.

Kembali dengan pertanyaan, “siapa lebih boros, wanita atau pria?”

Dalam seminarnya, Safir Senduk, seorang pakar perencana keuangan menjelaskan bahwa pria dan wanita sama-sama memiliki potensi untuk menjadi manusia boros. Yang membedakan adalah jalurnya.

Wanita suka membelanjakan uangnya untuk kebutuhan penampilan, seperti busana, sepatu, aksesoris, tas, makeup. Apapun yang bisa mendukung penampilan bak bidadari, pasti mampu menggoyang isi dompet wanita. Secara frekuensi, para wanita umumnya lebih sering berbelanja dibanding pria. Bagi sebagian wanita, belanja bak terapi jiwa. Ada kepuasan tersendiri saat menenteng tas belanjaan. Beruntungnya, para wanita diberkahi bakat menawar dan radar sensitivitas tinggi terhadap sale atau diskon. Yang kadang membuat wanita merasa telah belanja dengan harga yang menguntungkan.

Berbeda dengan Wanita, Pria lebih banyak menghabiskan uangnya untuk hobi. Misalnya, bila pria suka bersepeda, pasti satu sepeda tidak pernah cukup. Belum lagi segala onderdilnya. Meskipun dari segi fekuensi, Pria lebih jarang berbelanja dibandingkan wanita. Namun rata-rata, pria tidak seagresif wanita saat menawar. Cara pria berbelanja lebih praktis. Namun, saking praktisnya pria rela membayar mahal barang incarannya.

Simpulannya, gender hanya mempengaruhi gaya belanja seseorang. Namun tidak mempengaruhi tingkat keborosan.

Lalu, “siapa yang lebih cepat kaya?? Pria atau Wanita??”

hati-hati saat cuci mata... jangan sampai, dompet ikut bersih...

Hati-hati saat cuci mata. Jangan sampai isi dompet jadi ikut bersih.

Pria atau Wanita sama-sama punya potensi seimbang untuk menjadi cepat kaya. Asal mampu mengatur pengeluaran agar kondisi keuangan aman terkendali. Caranya…??

  1. Identifikasi penyebab boros Anda. Ketahui dimana boros Anda, kemudian kurangi pelan-pelan. Kecuali anda bisa menjadikan boros anda sebagai mata pencarian dan sumber pendapatan. Misalnya, Anda suka belanja lipstick. Dari lipstick yang Anda belanjakan itu, Anda bisa menghasilkan tulisan, foto, atau video tentang lipstick yang kemudian memberi pemasukan lebih besar bagi Anda. Jika tidak, sebaiknya kurangi dan batasi jatah belanja lipstick, sedikit demi sedikit.
  2. Kendalikan keinginan Anda. Caranya dengan menganggarkan pengeluaran sesuai kemampuan. Misalnya Anda hanya mampu menyisihkan dana sebesar seratus ribu untuk ngopi cantik bersama sahabat setiap bulannya. Patuhi anggaran itu. Jangan sampai karena ada menu kudapan baru, anda jadi tergiur dan ingin mencoba. Padahal harganya melebihi anggaran anda.
    Siapa yang bisa mengendalikan keinginannya, bisa mengendalikan pengeluarannya.
    -Safir Senduk-
  3. Tentukan prioritas. Urutkan pengeluaran berdasarkan sifatnya. Wajib, Butuh, Ingin. Lunasi kewajiban, Penuhi kebutuhan, Batasi keinginan. Jangan terbalik.
  4. Miliki investasi dan asuransi. Karena investasi dapat menghidupi masa depan kita, dan asuransi dapat membiayai pengeluaran mendadak yang tidak kita inginkan.
  5. Hati-hati dengan sale. Telitilah permainan kata-kata dan istilah diskon. Misalnya, diskon 40%+30%. Artinya tidaklah sama dengan diskon 70%. Jangan sampai salah hitung yang kemudian membuat Anda mengeluarkan dana lebih besar dari dugaan. Terlebih lagi, sale atau diskon sebenarnya hadir cukup sering sepanjang tahun. Tentu dengan tema yang berbeda. Tiga bulan terakhir saja, kita telah bertemu dengan diskon liburan (Juni), diskon lebaran (Juli), dan diskon kemerdekaan (Agustus).

Semoga tulisan ini mampu membuat kita lebih sadar akan pentingnya mengatur pengeluaran. Yuk kelola keuangan dengan bijak. Agar hidup kita menjadi lebih baik, lebih sejahtera dan lebih mapan.

Advertisements