Tags

, , , , , , , , , , , ,

Sebelum kita membahas, bagaimana mengelola keuangan yang bijak ala orang kaya, ada baiknya kita kupas dulu, seperti apa sih ciri-ciri orang kaya itu.

  1. Memiliki aset produktif. Orang-orang kaya selalu memiliki aset produktif. Aset-aset ini mampu ‘bekerja’  dan menghasilkan tambahan pendapatan untuk mereka.
  2. Pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Orang-orang kaya tidak pernah menghabiskan seluruh penghasilan yang mereka dapatkan. Mereka membuat tempat bagi sebagian penghasilan untuk dijadikan aset produktif.
  3. Pengeluaran terkendali. Orang yang kaya bukan orang yang bisa belanja tanpa memperhatikan label harga. Namun orang yang mampu merencanakan anggaran belanja sesuai kemampuannya dengan tepat, dan kemudian disiplin mengendalikan pengeluarannya.

Jadi, belum tepat bila Anda berpikir bahwa orang kaya berarti orang yang hanya memiliki mobil terbaru atau gadget teranyar. Sering nongkrong di cafe terhits atau selalu menenteng tas bermerk. Belum tentu. Sebab, ukuran kemapanan seseorang bukan dilihat dari seberapa banyak barang konsumtif yang ia punya, melainkan dari jumlah investasi dan aset produktif yang ia miliki.

Profesi yang Membuat Kita Kaya

Lalu, pekerjaan apa yang bisa mengantarkan kita pada kesejahteraan dan kemapanan finansial? Jenis profesi apa yang mampu membuat kita kaya, mapan dan sejahtera? Apakah karyawan dengan jaminan penghasilan tetap setiap bulannya? Ataukah profesional, yang penghasilannya bergantung pada seberapa sering ia menjual jasanya? Atau pengusaha, yang pendapatannya bergantung dari banyak sedikitnya laba bisnis yang ia peroleh.

Sedikit berbagi pengalaman, saya dan suami saya tadinya adalah seorang karyawan. Gaji kami berdua meski tidak melimpah ruah tapi cukup untuk sekedar menyambung hidup sembari sedikit menabung. Namun, kami berdua punya visi finansial (jangka pendek) yang sama. Saat itu kami ingin memiliki properti pribadi lengkap dengan isinya dan segera mendaftar haji. Setelah menikah selama dua setengah tahun, akhirnya dua mimpi kami itu terwujud. Kami memiliki (bukan cuma satu, tapi dua) unit apartemen mungil lengkap dengan isinya sekaligus bisa mendaftar haji.

Beberapa bulan kemudian, suami saya kemudian memutuskan beralih profesi, dari pegawai menjadi profesional, demi membuka tambahan peluang mendapatkan penghasilan lebih banyak. Meski dengan risiko akan memperoleh pendapatan tidak pasti setiap bulannya. Saya sendiri memilih menjadi ibu rumah tangga agar mampu fokus mengasuh buah hati. Namun, saya juga memanfaatkan salah satu unit properti kami untuk disewakan. Hasilnya, kami kini mampu membeli satu unit rumah dan memiliki beberapa unit reksadana dan saham.

Kadang, kita tidak bisa menetapkan berapa penghasilan kita. Tapi kita bisa menetapkan pengeluaran kita, dan menempatkan pemasukan kita dalam pos-pos yang tepat.

Berdasarkan pengalaman di atas, saya merasa bahwa apapun jenis profesi kita, tidaklah sepenting disiplin kita mengatur dan mengelola keuangan. Buktinya, saya dan suami tetap mampu menambah aset, dengan apapun profesi yang kami geluti. Profesi memang berhubungan langsung dengan karya dan produktivitas kita. Namun, kemapanan finansial dan kesejahteraan hidup lebih bergantung pada sebijak apa kita mengelola keuangan. 

Pemikiran saya ternyata sejalan dengan materi yang disampaikan Safir Senduk, dalam seminarnya bersama SunLIFE Finansial yang bertajuk bijak mengelola keuangan. Safir dengan tegas menyampaikan bahwa kekayaan seseorang dilihat dari jumlah investasi yang paling banyak, bukan dari profesi, jabatan atau barang konsumtif yang kita punya.

miley

Miley aja kadang harus nangis bombay nahan ngga belanja, demi bisa sejahtera… 😀

Kiat Mengelola Keuangan dengan Bijak

Sederhananya, mengelola keuangan ala orang kaya, dimulai dari menata aliran dana. Orang kaya mampu mengurutkan aliran pendapatannya menjadi aset produktif, diikuti pembelanjaan barang konsumtif, baru kemudian dimanfaatkan untuk membiayai hidup.

Lalu bagaimana cara spesifik mengelola keuangan dengan bijak, agar kesejahteraan hidup dan kemapanan finansial dapat tercapai? Berikut kiat-kiat sederhana dari Safir Senduk:

  1. Miliki investasi sebanyak mungkin. Mulai sekarang, jangan menggantungkan kesejahteraan dari besarnya pendapatan. Ubah motivasi kerja Anda. Bekerjalah bukan untuk mendapat gaji tinggi, tapi bekerjalah untuk mendapatkan aset produktif. Harapannya, aset inilah yang kelak akan menghidupi Anda dan keluarga.
    Tips: Pilih produk investasi yang memiliki lebih banyak kelebihan namun lebih sedikit risiko, seperti: Reksadana, Saham, Properti.
  2. Siapkan dana untuk masa depan. Di masa depan, ada beberapa pos pengeluaran yang membutuhkan dana sangat besar. Di antaranya menikah bagi yang masih lajang, membeli rumah beserta isinya, dana pendidikan anak, dana pensiun. Siapkan dananya sejak jauh-jauh hari. Semakin dini kita memulai menyiapkan dana masa depan, semakin panjang waktu yang kita miliki, semakin ringan pula ‘cicilan’ yang harus kita sisihkan.
  3. Atur pengeluaran. Mengatur pengeluaran di sini bukan berarti Anda harus mengeluarkan dana sesedikit mungkin, tapi berusahalah agar pengeluaran Anda tidak melebihi yang seharusnya.
    Tips: Urutkan pengeluaran berdasarkan prioritas.

            • Cicilan Hutang (30%)
            • Tabungan/Investasi (10%)
            • Premi asuransi (10%)
            • Biaya Hidup (50%)

    Kendalikan keinginan Anda. Bedakan mana pengeluaran untuk kewajiban, kebutuhan dan keinginan.

Bijak mengelola keuangan adalah ciri pribadi kaya yang memiliki citra positif, perencanaan yang matang, masa depan cemerlang. Pastikan, Anda adalah salah satu di antaranya.

Advertisements