Tags

, , , , , , , , ,

Sepuluh tahun lalu, mama meminta saya mengantarkannya ke bank untuk membuka rekening haji. Dalam hati, saya ikut bahagia. Sebentar lagi, mama mau naik haji.

Nyatanya, tidak sesebentar itu. Mama baru melunasi uang pendaftaran haji pada empat tahun kemudian. Dan harus menunggu antrian selama lima tahun lagi baru bisa berangkat. Ya, tepatnya tahun 2014 atau baru tahun lalu orang tua saya berangkat haji. Sungguh penantian yang panjang, bathin saya.

Saya sempat bertanya pada mama saat itu, “Mengapa baru sekarang mama mulai menabung untuk naik haji?”. Mama menjawab, “Iya, Mama baru siap lahir bathin sekarang. Dananya juga baru ada sekarang.”. Siapa sangka kalau ternyata mama juga harus siap menanti bertahun-tahun.

masjidil haram

Belajar dari pengalaman orang tua, saya bertekad untuk lebih dini mempersiapkan diri agar bisa segera berangkat ke tanah suci. ‘Naik Haji’ pun menempati jajaran prioritas dalam target hidup saya.

Beruntung saya menikah dengan pria yang memiliki visi sejalan. Kami sama-sama ingin segera menunaikan ibadah haji. Kami pun bersama-sama mengatur keuangan agar rencana naik haji kami segera terwujud.

Kami menempatkan dana naik haji dalam investasi jangka pendek-menengah. Setiap bulan, kami menyisihkan sebagian pendapatan untuk dana naik haji, yang kami tempatkan di reksadana. Alhamdulillah, selang dua tahun menikah, tepatnya di 2012 kami akhirnya berhasil mengumpulkan dana dan mendaftarkan diri menjadi calon jamaah haji reguler.

Perjalanan finansial menuju tanah suci tentu tidak berhenti sampai situ. Saat mendaftar, petugas administrasi haji menyampaikan bahwa kami baru akan berangkat kira-kira tahun 2021. Ya, kami harus menunggu hingga sembilan tahun.

Mari lihat sisi positifnya. Setidaknya, kami punya cukup banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Baik fisik, mental maupun finansial untuk berangkat ke tanah suci. Kami pun mulai menata kembali, bekal apa saja yang perlu dipersiapkan kelak. Baik bekal perjalanan ibadah kami, maupun bekal bagi anak-anak yang akan kami tinggalkan, saat sedang berada di tanah suci.

Kami kembali menyusun berbagai persiapan finansial, khususnya dana haji yang mencakup dana pelunasan keberangkatan haji dan dana selama di tanah suci. Karena kami baru akan berangkat lebih dari lima tahun ke depan, maka kami memilih mengumpulkan sekaligus menginvestasikan dana di reksadana. Harapannya, kami mendapat jumlah imbal balik yang bisa mengalahkan inflasi total pada tahun 2021.

Tak lupa kami membeli asuransi jiwa atas nama suami selaku pencari nafkah dan asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga. Jaga-jaga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sisanya, tentu saja menjaga kesehatan pribadi dan keluarga dengan mengkonsumsi makanan sehat serta rajin olah raga. Karena kesehatan dan kebugaran fisik mutlak perlu agar perjalanan ibadah haji lebih lancar. Serta, bila anak-anak terbiasa dengan pola hidup sehat, risiko mereka sakit saat kami tinggalkan beribadah haji tentu akan berkurang.

mathaf-expansion

Peminat keberangkatan haji kian hari kian bertambah. Meski jatah kursi haji untuk jamaah Indonesia juga bertambah, namun belum mampu mengimbangi semakin membludaknya calon jamaah haji. Awal tahun ini, sepupu saya mendaftar haji dari Tangerang Selatan. Perkiraan baru akan berangkat pada 15 tahun ke depan. Jadi, bila Anda berminat untuk berangkat ke tanah suci, segera mulai siapkan dananya. Hingga tahun ini, untuk mendapatkan jatah kursi haji, Anda harus menyiapkan dana sebesar 25juta rupiah per orang. Bukan tidak mungkin harganya akan meningkat dan masa tunggu akan bertambah di kemudian hari.

Tidak perlu menunggu kaya dulu baru bersiap berangkat haji. Kita memiliki kuasa penuh untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Rencanakan keuangan Anda sejak dini. Raihlah kehidupan yang lebih mapan dan sejahtera, jasmani dan rohani.

Advertisements