Tags

, , ,

Wanita umumnya, dan para ibu khususnya tentu harus bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Jika tidak, bisa saja kita tidak memiliki simpanan atau bahkan lebih buruk, terlilit hutang. Memang sih, tidak mudah mencapai kondisi financial sesuai yang kita harapkan karena beragamnya masalah keuangan yang kerap menghampiri keluarga. Biasanya berbagai masalah keuangan ini berakar dari pengelolaan keuangan yang kurang bijak. Salah satunya karena ibu kurang cukup paham bagaimana mengelola keuangan dengan baik.

Besar Pasak daripada Tiang

Siapa sih yang tidak paham arti ungkapan di atas. Namun faktanya, tidak sedikit dari kita yang mampu menghindar dari pengeluaran berlebih. Penyebabnya beragam, mulai dari inflasi harga hingga gaya hidup.

Tapi bukan tidak mungkin lho, kita tidak bisa hidup nyaman hanya dengan penghasilan dan/atau pemasukan yang kita dapatkan. Kembali lagi, asal dikelola dengan benar, segala tujuan finansial sangat mungkin tercapai. Nah, agar keuangan menjadi lebih terkendali, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan, yaitu

  1. Financial Check Up
  2. Membentuk Dana Darurat
  3. Mengatur Utang
  4. Membuat Anggaran Belanja
  5. Merencanakan Keuangan

Financial Check Up

Kenapa sih, kita harus melakukan terlebih dahulu??

Sama seperti tubuh, kita harus rutin melakukan pemeriksaan agar kita bisa tahu dengan lebih pasti, apakah kita cukup sehat atau tidak. Kalau ternyata kurang sehat, kita juga bisa tahu lebih rinci, apa yang perlu diperbaiki dan dibenahi atau bagian mana yang perlu dirawat bahkan diobati.

Nah, dengan melakukan financial check up, kita jadi tahu kondisi keuangan rumah tangga kita. Apakah pengelolaan keuangan yang kita lakukan sudah cukup baik atau belum.

Kalau boleh jujur, saya termasuk yang suka malas melakukan financial check up. Padahal sebenernya, kita hanya butuh melakukan financial check up setahun sekali.

TUMBlogger antusias mengikuti financial education oleh Prita Ghozie

Untung ada The Urban Mama dan Visa yang mengadakan #TUMBloggersMeetUp bertema #IbuBerbagiBijak Financial Check Up. Namanya Ibu bijak tentu harus rajin meng-update ilmu donk. Supaya ngga kudet alias kurang update kalau kata anak sekarang. Berkat ikutan di #TUMBloggersMeetUp ini pula, saya jadi tahu kalau status kondisi keuangan bisa dikategorikan menjadi empat, yakni:

  • Tidak Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan.
  • Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran sama besarnya dengan penghasilan.
  • Mandiri adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran.
  • Sejahtera adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, dan juga adanya kepemilikan penghasilan pasif dari aset, tidak punya utang, serta kemampuan berderma.

Untuk memastikan bagaimana status kondisi keuangan masuk di kategori apa, kita perlu melakukan Financial Check Up dengan membuat dan mengisi tiga perangkat berikut:

  1. Mengisi Tabel Kekayaan Bersih Data. Caranya dengan membuat dua kolom aset dan utang. Kemudian, kategorikan aset yang kita miliki menjadi aset kas, aset investasi, dan aset konsumsi. Pun utang, dapat kita bagi menjadi utang jangka pendek dan jangka panjang.
  2. Mengisi Tabel Arus Kas, Dengan membuat pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Hal-hal yang dapat membantu dalam penyusuan tabel ini adalah mengumpulkan data-data seperti bon belanja, mutasi rekening, dan lainnya selama tiga bulan. Arus kas ini bermanfaat untuk melihat dan merencanakan pengeluaran rutin bulanan kita.
  3. Hitungan Rasio Keuangan. Hitungan rasio keuangan ini semacam standar pengukur keuangan kita. Tabel di bawah, sedikit banyak memilah apakah pengelolaan keuangan yang kita lakukan sudah cukup terkendali atau belum.

Bagaimana status keuangannya? Semoga masuk di kategori sejahtera semua ya. Kalau belum sejahtera, saya masih punya satu lagi jurus lagi nih, yang semoga bisa memperbaiki mengelola keuangan.

Oleh-oleh dari #TUMBloggersMeetUp #IbuBerbagiBijak

Caranya adalah dengan mengalokasikan total seratus persen pemasukan ke dalam jalur pengeluaran sesuai dengan prosentase sebagai berikut:

  • 5%   Sedekah
  • 30% Cicilan Utang
  • 10% Dana Darurat
  • 30% Biaya Hidup
  • 10% Gaya Hidup
  • 15% Investasi

Wah, biaya hidup cuma 30%? Apa bisa? Bisa donk. Sebenernya, kebutuhan primer untuk hidup kita tidak mahal kok. Yang mahal adalah pilihan-pilihan kita. Jadi, pilihlah pemenuh kebutuhan hidup yang sesuai kemampuan diri dan keluarga kita.

Selamat menjadi sejahtera para Ibu-Ibu Bijak

 

Advertisements