Tags

, , , ,

Seberapa penting sih ber-Investasi…??
Ya pasti Penting ya.
Tapi cukup atau tidak investasi kita?
Sesuai atau tidak dengan kepentingan dan tujuan kita?

Hmm… Jadi mikir-mikir nih. Uda bener belum ya Investasi yang kita jalankan. Atau bahkan baru mau mulai ber-Investasi. Harus seberapa besar dan harus kemana kita ber-Investasi…??

Penghasilan ada batasnya, Keinginan tak terbatas.

Di artikel sebelumnya tentang saving dan budgeting, telah saya sampaikan bahwa sebelum mengelola anggaran, kita harus terlebih dahulu menentukan prioritas. Prioritas ini disesuaikan berdasar kebutuhan, baik kebutuhan saat ini maupun kebutuhan masa depan. Nah, Investasi adalah cara paling mudah dan tepat untuk memenuhi kebutuhan masa depan.

Kebutuhan finansial masa depan juga beragam. Mulai dari Menyiapkan dana sekolah anak, pensiun, perjalanan ibadah, dan lain sebagainya. Padahal kembali, penghasilan kita saat ini juga terbatas. Karena itu, kita pun harus menentukan prioritas agar kebutuhan-kebutuhan penting di masa depan bisa terpenuhi.

Nah, sebelum menentukan investasi apa saja yang cocok dengan kita, terlebih dahulu mari kita pelajari dan pahami dulu Prinsip-prinsip Dasar Ber-Investasi berikut ini.

  1. Pahami Tujuan dan Profil Risiko
  2. Tentukan Jangka Waktu
  3. Ragamkan Harta Investasi
  4. Lakukan Investasi Secara Bertahap dan Berkala
  5. Evaluasi dan lakukan perubahan alokasi bilamana perlu.

1. Pahami Tujuan dan Profil Risiko 

Tahap Paling awal sebelum memulai berinvestasi adalah mengenali diri kita sendiri. Tipe investor seperti apakah diri kita. Apakah kita termasuk orang suka mengejar pertumbungan nilai investasi dan siap pula mengambil risiko berkurang bila terjadi hal sebaliknya. Ataukah tipe investor yang takut bila nilai investasi menurun. Atau gabungan keduanya.

Secara garis besar, tipe investor terbagi menjadi tiga:

  • Investor Konservatif (100% Defensif). Investor tipe ini sama sekali tidak mau mengambil risiko nilai investasinya berkurang. Tak masalah baginya jika pertumbuhan nilai investasinya berjalan lambat, asalkan tidak mengalami penurunan.
  • Investor Moderat (60% Defensif, 40% Agresif). Investor tipe ini mau menerima risiko tinggi tapi juga mau mendapatkan imbal hasil investasi yang lebih tinggi.
  • Investor Agresif (30% Defensif, 70% Agresif). Investor tipe ini biasanya suka dengan investasi yang potensial memberi imbal hasil tinggi. Namun mereka juga biasanya siap menerima kondisi jika ternyata produk atau instrumen investasinya justru mengalami penurunan nilai.

Nah, termasuk dalam tipe investor seperti apakah Anda?
Jika sudah tahu kita masuk dalam kategori investor apa, selanjutnya kita lihat lagi tujuan investasi kita di masa depan. Misalnya untuk menyiapkan dana pensiun, menyiapkan dana pendidikan anak, untuk perjalanan ibadah, dan lain sebagainya. Tujuan investasi ini penting untuk memperkirakan besaran angka yang kita butuhkan kelak.

Kembali saya ingatkan, investasi ini untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Tapi, sedekat atau sejauh apa sih, masa depan itu?
Mari kita lihat poin berikutnya.

2. Tentukan Jangka Waktu

Poin kedua yang tidak kalah penting adalah menentukan jangka/horizon waktu yang kita miliki. Misalnya salah satu tujuan keuangan kita adalah menyiapkan dana kuliah anak. Berapa rentang waktu yang dibutuhkan hingga anak kuliah. Lima belas tahun lagi? Sepuluh tahun lagi? Atau malah tinggal lima tahun lagi? Horizon waktu ini penting untuk memperkirakan besaran ‘cicilan’ yang harus kita sisihkan secara rutin dan disiplin untuk mencapai tujuan investasi kita.

Oiya, besaran nilai kebutuhan masa sekarang dan masa depan itu beda ya. Ingat Inflasi. Ibaratnya, harga teh celup sekarang sama lima tahun lalu aja beda kan, gimana biaya uang pangkal sekolah anak. Jadi, tambahkan persentase inflasi dalam menghitung jumlah kebutuhan di masa mendatang.

Tapi ingat, semuanya kembali kepada sumber daya masing-masing individu. Kembali, keinginan boleh tak terbatas, namun penghasilan tentu ada batasnya. Boleh lhoh dibaca lagi artikel financial check up ini untuk mengoptimalkan penghasilan agar tidak sekedar mampir lalu pergi dari rekening tabungan kita.

Sebelum saya meneruskan ke poin selanjutnya, saya akan tunjukan sebuah video tentang perbedaan Savings (Menabung), Investing (Investasi), dan Speculating (Spekulasi) di bawah ini. Karena tidak semua jenis instrumen/produk pengelolaan dana termasuk dalam bentuk investasi ya mama.

Sekarang sedikit banyak sudah mulai paham ya, bahwa Investasi itu tujuannya benar-benar untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Yang artinya Investasi merupakan kegiatan jangka panjang, dengan rentang waktu minimal tiga tahun. Nilai uang investasi sangat berpotensi untuk tumbuh berkembang. Meski juga ada risiko penurunan. Produk Investasi juga sangat beragam. Mulai Saham (Stocks), Obligasi (Bonds), Properti (Real Estate), hingga Logam Mulia. 

Mana yang paling cocok dengan kita?
Dan bagaimana pula mensiasati sumber daya (baca: penghasilan) agar dapat memenuhi kebutuhan masa depan?
Mari kita lihat poin berikutnya.

3. Ragam(kan) Harta Investasi

Secara Fisik, Bentuk Harta Investasi terbagi menjadi tiga:

  1. Aset Fisik: Logam mulia, Properti
  2. Surat berharga : Deposito, Obligasi, Saham, Reksadana
  3. Bisnis : Franchise, Usaha

Mana yang paling cocok untuk kita, tentu saja lihat kembali pada profil risiko, tujuan investasi dan jangka waktu. Sebelum memutuskan ingin berinvestasi dalam bentuk apa, ingat juga untuk mengecek Risiko Investasi berikut:

  • Risiko Likuiditas. Risiko likuiditas terjadi jika Investor membutuhkan dana tunai, namun asetnya tidak dapat dengan mudah dijual atau dicairkan.
  • Risiko Volatilitas Harga adalah dimana harga aset berfluktuasi selama periode waktu tertentu.
  • Risiko Gagal Bayar yaitu resiko yang terjadi karena ketidakmampuan debitur membayar kewajibannya sesuai perjanjian.
  • Risiko Pasar suatu risiko yang timbul karena menurunnya nilai suatu investasi karena pergerakan pada faktor-faktor pasar.

Memangnya semua jenis investasi ada risikonya ya? Ngga ada gitu yang 100% aman?
Yang 100% aman dan dijamin uang kembali namanya menabung ya, bukan Investasi.

Lalu bagaimana trik memilih jenis-jenis aset investasi yang tepat dan sesuai profil kita? Anda bisa memilih satu dari empat jenis Pemilihan Jenis Aset Investasi berikut.

  • Growth (growth 80% Income 20%) Jika Anda termasuk investor yang sangat agresif, dan siap menerima risiko, Anda bisa menginvestasikan 80% dana Anda ke investasi dengan potensi pertumbuhan cukup tinggi namun dengan risiko yang juga tinggi dan 20% aset investasi yg memiliki nilai imbal balik dan risiko rendah.
  • Balance (growth 55% Income 45%) Jika Anda ingin aset yang bertumbuh namun juga tak ingin menghadapi risiko terlalu tinggi. Anda bisa membagi harta investasi dengan prosentasi balanced.
  • Conservative (growth 20% Income 80%), Sebaliknya Jika Anda termasuk investor yang cukup konservatif, dan kurang bisa menerima risiko, Anda cukup menginvestasikan 80% dana Anda ke investasi yg memiliki risiko relatif rendah namun tentunya dengan imbal balik yg rendah namun lebih pasti. Sisa 20% bisa Anda masukkan ke aset investasi dengan tingkat pertumbuhan lebih tinggi.
  • Cash (Income 100%) Hanya jika anda merasa cemas dengan segala risiko investasi serta ingin kepastian bahwa uang Anda akan 100% aman.

4. Lakukan Investasi Secara Bertahap dan Berkala.

Setelah paham jenis-jenis aset investasi dan risikonya, selanjutnya saya akan bagikan tiga kiat agar kita bisa meminimalkan risiko sekaligus mengoptimalkan potensi pertumbuhan investasi hingga mampu mencapai target keuangan yang kita inginkan.

Cost Averaging. Dengan cara disiplin investasi setiap bulan dan tidak terpengaruh kondisi pasar. Investasi rutin dapat membantu kita untuk meminimalisir exposure downside risk pada portofolio kita di suatu waktu.

Do Diversification. Never put all of your eggs in one basket adalah prinsip dasar investasi. Berinvestasi di berbagai sektor atau instrumen dapat meminimalisir risiko.

Long term. Risiko berinvestasi tidak dapat dihindari, namun pada umumnya dapat diminimalisir dengan lamanya jangka investasi. Investasi adalah alat terbaik membantu kita untuk meraih long term goal atau tujuan masa depan.

5. Evaluasi dan lakukan perubahan alokasi bilamana perlu.

Sudah merasa melakukan investasi dengan tepat, bukan berarti kita tak perlu lagi mereview hasilnya. Evaluasi tetap perlu, minimal setahun sekali. Karena belum tentu selama setahun kondisi keuangan kita stagnan, begitu-gitu saja. Pun kondisi aset investasi kita, belum tentu dalam kondisi baik. Bila perlu, lakukan perubahan alokasi aset investasi yang lebih sesuai dan lebih berpotensi memenuhi target keuangan kita di masa mendatang.

Waspada Investasi Bodong

  • Jangan tergiur imbal hasil besar dan pasti. Semua investasi pasti ada risiko dan hasilnya tidak dapat dijamin.
  • Periksa legalitas dan ijin perusahaan yang menawarkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
  • Skema Investasi harus jelas. Darimana potensi keuntungan diperoleh.
  • Hati-hati dengan Money Game, Arisan Berantai, Tawaran Investasi Kebun ABC, dan lain sebagainya.

Semoga seri terakhir artikel #IbuBerbagiBijak bisa membari banyak manfaat terkait keuangan keluarga. Selamat ber-investasi Mama dan selamat menyambut masa depan keuangan yang gemilang.