Tags

, , , , ,

Bulan lalu saya sempat berbagi kiat-kiat mengendalikan keuangan keluarga. Masih belum lupa donk, bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan Financial Check Up. Idealnya, setelah melakukan financial check up, kita bisa tahu kondisi keuangan kita yang sebenar-benarnya saat ini. Setelah itu, kita bisa menentukan langkah lebih lanjut untuk mencapai target financial di masa mandatang.

Bukan #ibubijak namanya jika tidak terus belajar, ya kaaann. Nah, belajar keuangan bersama Prita Ghozie dan Visa berlanjut di bulan Agustus ini. Kali membahas soal Saving and Budgeting alias Simpanan dan Anggaran.

Ada Apa Dengan ‘Saving and Budgeting’??

Umumnya tiap personal memiliki kebutuhan dasar yang relatif serupa, seperti menyiapkan dana pernikahan, perjalanan ibadah, pembelian hunian dan kendaraan, kelahiran dan sekolah anak, hingga dana pensiun.

Nah, untuk pasangan menikah nih, Prita Ghozie menyarankan untuk mengkomunikasikan dan menyamakan kebutuhan antara suami istri. Sehingga persepsi kebutuhan dalam rumah tangga, bisa seiring sejalan senada seirama.

Menurut Prita Ghozie, ada 4 langkah merencanakan keuangan keluarga, yaitu:

  1. Cek kebutuhan & tentukan prioritas,
  2. Siapkan alokasi anggaran,
  3. Wujudkan impian,
  4. Anggaran.

1. Cek Kebutuhan dan Tentukan Prioritas

Sesungguhnya, pemasukan tidak ada hubungannya dengan status kemakmuran atau kesejahteraan seseorang. Namun, pemasukan berhubungan langsung dengan Gaya Hidup.

Artinya, boleh jadi pendapatan si A dan si B sama persis. Tapi gaya hidup lah yang sesungguhnya membedakan status kemakmuran mereka. Misalnya, gaya si A lebih sederhana dan lebih bisa mengatur anggaran, sedangkan si B lebih konsumtif dan santai dalam membelanjakan uang, boleh jadi si A akan lebih sejahtera daripada si B.

Jadi, sebaiknya kita mulai memprioritaskan pengeluaran. Kenali mana Butuh mana Mau. Jangan terlalu kebanyakan prioritas juga ya, supaya kebutuhan kita dapat segera terpenuhi.

Kebutuhan itu berdasarkan rentang waktu, terbagi jadi dua, yaitu:

  • Kebutuhan saat ini: jatuh tempo kebutuhan dalam 12 bulan kedepan. Misalnya pengeluaran rumah tangga, bayar uang sekolah bulanan, dsb
  • Kebutuhan masa depan: jatuh tempo kebutuhan diatas 12 bulan lagi. Misalnya kebutuhan pendidikan anak, naik haji dan kebutuhan pensiun, dsb

Setelah mengecek kebutuhan kita apa saja, saatnya kita untuk menentukan prioritas, lalu menyusun anggaran. Di sesi pertama, mbak Prita sudah menginformasikan mengenai alokasi pengeluaran rutin keuangan keluarga. Nah alokasi ini bisa disusun berdasarkan prioritas, yakni:

  1. Zakat, Infaq, Sedekah
  2. Bayar Pinjaman/ Hutang
  3. Tabungan investasi
  4. Dana darurat
  5. Biaya hidup
  6. Tabungan dan biaya pendidikan
  7. Gaya hidup

Pembagian prosentasenya sudah dibahas ya di artikel sebelumnya. Sekarang saatnya membahas skala prioritasnya. Praktiknya, setelah mendapat pemasukan langsung alokasikan sesuai urutan kebutuhan di atas. Usahakan semua kebagian sesuai dengan porsi alokasi yang sudah disepakati bersama pasangan.

courtesy: instagram @ibuberbagibijak

2. Kelola Anggaran.

Masih berkaitan dengan langkah pertama, disini kita belajar untuk mengelola dan mengatur anggaran dengan seksama.

Zakat. Pengeluaran pertama yang harus disisihkan adalah zakat, infaq, sedekah sebesar 5%. Pengeluaran ini juga termasuk kegiatan sosial ya. Misalnya kita menanggung biaya hidup orang lain di luar keluarga inti. Pengeluaran ini masuk ke pos zakat. Jangan lupa bahwa penghasilan yang kita terima ada sebagian hak orang lain di dalamnya.

Assurance. Assurance ini beda dengan insurance, biasanya insurance sering dikaitkan dengan asuransi. Sementara Assurance adalah jaminan. Kita menjamin jika terjadi kondisi darurat, maka kita punya sesuatu yang bisa membantu kita, baik yang datang dari dana darurat ataupun dari asuransi.

Present Consumption atau kebutuhan rutin. Disini mbak Prita menegaskan bahwa jangan sampai kita sibuk berinvestasi tetapi untuk kebutuhan rutin kita ngutang. Jangan sampai membeli kebutuhan biaya bulanan dibayar cicil ya. Sebaiknya kebutuhan biaya bulanan itu dibayar secara lunas.

Mbak Prita juga menyarankan untuk TABUNG dulu baru BELI, bukan kita BELI dulu baru CICIL kemudian. Yang boleh dicicil itu yang termasuk Future Spending. Boleh sih kalau mau cicil tapi kondisi barang yang kita cicil tersebut punya masa pakai yang lebih panjang dibanding masa bayar kita. Misalnya, membeli sofa cicil 12 bulan, tapi masa pakainya lebih dari 12 bulan. Atau misalnya mau beli tiket liburan dengan cicilan, karena mungkin promonya lebih besar. Ga masalah, asal cicilannya sudah lunas sebelum jadwal berangkatnya ya.

Investment. Menurut Prita, ada perbedaan konsep antara menyisihkan uang & investasi. Kalau menyisihkan uang hampir tidak ada resiko, kalau investasi pasti mengandung resiko, hanya saja kadar resikonya yang berbeda tergantung jenis investasi yang diambil.

3. Meraih Mimpi

Setiap keluarga pasti memiliki mimpi. Di awal workshop, Prita sudah menyarankan untuk mengkomunikasikan apa-apa saja yang menjadi kebutuhan dan prioritas kita dan pasangan.

Jadikan kebutuhan tersebut menjadi mimpi yang hendak diwujudkan bersama. Sebaiknya impian tiap keluarga tidak terlalu banyak tapi cukup mengakomodir keinginan bersama. Tiap keluarga bisa memiliki 3-4 impian. Impian tersebut bisa diraih harus dengan usaha tentu.

Misalnya, mimpi saya dan pasangan adalah ingin pensiun Finland sembari mengelola peternakan dan perkebunan untuk jangka panjang. Serta membangun perusahaan dan sekolah grafis dalam jangka waktu menengah. Untuk itu, kami harus siapkan dulu planningnya, kemudian tentukan get to worknya berapa yang harus kami tabung/invest setiap bulan dan jangka waktunya berapa lama agar kami bisa mewujudkan impian-impian tersebut. Kami juga harus stick to it. Jangan sampai mudah terinterupsi dengan bermacam godaan-godaan promo dan spending lainnya. Kemudian Reach Goal.

4. Anggaran Bulanan & Musiman.

Berbicara mengenai anggaran, anggaran dibagi menjadi dua, yaitu anggaran bulanan dan anggaran musiman. Anggaran bulanan diperoleh dari pendapatan rutin atau gaji bulanan yang digunakan untuk pengeluaran rutin bulanan. Sementara anggaran musiman itu datangnya dari penghasilan musiman seperti saat menerima THR, Bonus, ataupun tunjangan lainnya dan digunakan untuk pengeluaran & investasi tahunan.

  • Alokasi pos investasi dari gaji Rutin misalnya: 5% untuk dana rumah, 10% dana pendidikan dan 5% dana pensiunan.
  • Alokasi pos investasi dari penghasilan bonus dapat digunakan untuk Dana Liburan dan Dana Belanja

Prita juga berbagi mengenai bagaimana teknik mengatur pengeluaran, diantaranya:

  1. Buat 3 rekening:  untuk pengeluaran bulanan rutin, dana darurat dan investasi. Selalu ingat untuk DISIPLIN.
  2. Ingat untuk membuat anggaran tercatat. Alokasikan setiap pemasukan pada  pembagian anggaran sesuai dengan pos rekeningnya.
  3. Cukup mengambil uang tunai di atm sekali seminggu.

It’s not how much you make, but how much you spend

Yup, yang paling penting bukan seberapa banyak yang dapat kita hasilkan. Tapi seberapa bijak kita mengelola pengeluaran.

Terima kasih VISA #IbuBerbagiBijak dan Prita Ghozie atas sharingnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Pssst, Sesi selanjutnya akan membahas tentang INVESTASI. So, stay tune di artikel #IbuBerbagiBijak yaaaa….