Sebelum bicara tentang peran ayah dalam pengasuhan, ingin rasanya curhat. Kebetulan saya sedang mencari SD untuk anak-anak saya. Tentunya di jaman serba digital seperti sekarang, pencarian bisa via apa saja termasuk rekomendasi dan referensi dari forum, chat group, dan website sebelum akhirnya survey langsung ke sekolah-sekolah yang menurut kami cocok potensial mengakomodasi kebutuhan anak-anak.

Suatu ketika, beberapa teman saya memberi referensi tentang beberapa sekolah yang oke. Alasannya karena pendidikan agama di sekolah-sekolah tersebut dinilai kuat dan kokoh. Jadi, pasti aman menitipkan anak-anak di sekolah-sekolah tersebut.

“Anak lo sekolah di sini aja, Ndah. Agamanya kuat banget.”

“Di sini sekolahnya OK. Aman lah agamanya kalau anak sekolah di sini.”

Kesannya, biarlah orang tua pengetahuan agamanya pas-pasan, asal anaknya bisa jauh lebih pinter dan sholeh dengan bersekolah di sekolah beragama. Tentu saja, siapa tak ingin anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan benar lagi cerdas mandiri.

Namun bathin saya justru merasa janggal. Bukan pada sekolah-sekolah yang oke itu, tapi justru pada orang-orang tua yang kesannya ingin ‘menyerahkan’ pendidikan agama anak pada sekolah. Bukankah pondasi karakter yang kuat, baik dan benar pada anak berawal dan berasal dari orang tua? Bukankah pendidikan (termasuk agama) yang baik itu berawal dari orang tua? Dan bukankah pendidikan yang berkualitas, didasari sinergi yang kuat dari orangtua dan sekolah?

Sebelum pembahasan mencari sekolah menjadi semakin panjang, kembali dulu ke laptop ya. Tentang peran ayah dalam pengasuhan. Kenapa kok di awal bahas sekolah sebelum bahas ke ayah?

Karena sama halnya dengan pendidikan yang baik, yang merupakan sinergi sekolah dan orang tua, pengasuhan yang baik juga merupakan sinergi ibu dan ayah. Benar adanya bahwa kewajiban ayah mencari nafkah. Ayahlah yang kodratnya menjadi tulang punggung. Namun bukan berarti bisa lepas tangan kewajiban mendidik dan mengasuh anak. Karena mengasuh dan mendidik anak adalah tugas orang tua. Bukan ibu saja atau ayah saja. Melainkan keduanya.

Sama dengan pendidikan anak, apalagi pendidikan agama. Tidak bisa diserahkan hanya pada sekolah. Orang tua wajib belajar untuk dapat membimbing anak.

Oke, kembali ke laptop lagi. Ayah. Perannya dalam pengasuhan. Sepenting apa sih peran ayah. Idealnya, keluarga yang utuh dibangun di atas pondasi, tiang dan atap yang kuat. Yang merupakan sinergi dari ayah dan ibu. Tidak ibu saja, Tidak ayah saja. Apalagi nanny atau baby sitter saja.

Di era dimana informasi melaju begitu cepat, anak-anak kita yang merupakan digital native dapat dengan mudah menerima beragam ‘pengetahuan’ baru. Anak-anak yang daya serapnya bak spons kualitas terbaik menerima semua informasi dengan cepat. Informasi baik atau tak baik. Canggih sekaligus mengkhawatirkan. Karenanya, kemampuan menyerap harus berimbang dengan kemampuan menyaring. Bila tidak, informasi-informasi sampah akan ikut tercerna dan bukan tidak mungkin merusak jiwa, pikiran dan fisik anak-anak kita.

Apa dampaknya informasi yang terserap namun tak tersaring? Beberapa di antaranya, penyalahgunaan narkotika, pergaulan bebas dan LGBT. “Penyakit-penyakit” yang semakin hari semakin marak dan populer ini tidak diturunkan. Melainkan ditularkan. Persebarannya begitu cepat. Siapa yang mampu melindungi anak-anak? Pelindung nomor satu, jelas, orang tua. Ibu dan Ayah.

Bagaimana caranya? Tahun 2015 lalu, tepatnya tanggal 21 November di Motivation Hall-AXA Tower, Kuningan City, Jakarta saya berkesempatan mengikuti seminar “PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN” dengan pembicara Ibu Elly Risman, Psi. Seminar ini dimotori oleh KAMPUNG KELUARGA.

Sesuai judulnya, seminar ini menitikberatkan fokus pada peran Ayah dalam pengasuhan. Dari masa ke masa, peran ayah selalu identik dengan pencari nafkah. Sedangkan urusan rumah tangga, termasuk pengasuhan anak, diserahkan pada ibu. Bahkan kadang, karena ibu pun turut mencari nafkah tidak sedikit pengasuhan anak diserahkan pada nenek-kakek hingga nanny atau baby sitter. Padahal, di usianya, nenek-kakek sudah memiliki kebutuhan sendiri. Mereka butuh lebih banyak waktu beribadah. Waktu untuk kegiatan vertikal. Tenaga mereka tak cukup kuat mendampingi anak-anak kita. Nanny atau baby sitter sebaik apapun, boleh jadi mampu mengawasi fisik anak-anak kita. Namun bagaimana dengan hati, emosi dan spiritual anak.

Orang yang paling tepat mendampingi, mendidik, dan mengasuh anak-anak, tak lain dan tak bukan adalah kita, orang tua. Ibu dan ayah. Fokus kepada ayah, kenapa peran ayah begitu penting. Karena Ayah adalah sosok pemimpin, pelindung, penjaga dan penenang. Ayah yang menentukan garis besar haluan keluarga. Ayah yang memiliki kewenangan kemana arah rumah tangga akan dijalankan. Karena itu, sangat tidak mungkin rumah tangga akan aman terkendali jika ayah hanya sibuk menjalankan peran pencari nafkah, tanpa membimbing istri dan anak-anaknya.

Jika keluarga kehilangan sosok pemimpin pada ayah, katakanlah ayah terlalu sibuk bekerja, maka kapal rumah tangga seolah akan kehilangan arah meski tangki bahan bakar terisi penuh. Bukan tak mungkin kapal itu hanya terombang ambing di laut lepas tanpa tujuan.

Namun bagaimana cara ayah menjaga keluarga, di tengah kesibukan mencari nafkah? Luangkan setidaknya 30 menit bersama anak. Bicara setiap hari, lakukan kontak dengan anak. Jalin komunikasi dan kedekatan, agar anak memiliki kepercayaan kepada ayahnya. Agar anak merasakan cinta ayahnya. Sehingga mereka tak perlu lagi mencari cinta lain di luar keluarga.

Ayah memang wajib menyediakan keuangan, makanan, pakaian, rumah dan isinya. Ayah juga wajib menyediakan perawatan diri, harta dan benda bagi keluarga. Di situ saja memang sangat berat. Tapi, ingat, ayah adalah pemimpin keluarga. Bukan jomblo yang hanya perlu mencari nafkah untuk diri sendiri lalu bebas tugas. Ayah wajib juga memberi pemantauan, pelatihan, memberi contoh yang baik dan benar pada keluarga. Berat?? Mungkin. Tapi sungguh, lebih berat menanggung akibatnya jika ayah cuek dengan keluarga. Saat ini, toleransi kadang sudah kebablasan. Narkoba, LGBT, seks bebas seakan menjadi hal biasa. Jangan biarkan hal itu terus terjadi. Orang tua bisa mencegahnya. Ayah dan ibu bisa mencegahnya dengan memberi perhatian sepenuh hati dan membekali anak-anak dengan pondasi agama dan cinta yang kuat.

Janganlah negara ini menjadi the fatherless country. Dimana suami kita, ayah dari anak-anak kita hanya mengambil peran dalam pemenuhan materi. Libatkan suami, libatkan ayah dalam pengasuhan anak. Sungguh, keberadaan sosok ayah begitu berarti bagi anak-anak kita, generasi masa depan dunia.

 

Advertisements